Kenaikan Harga Minyak Dunia Berpotensi Dorong Inflasi

itoday - Kenaikan harga minyak dunia berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Saat inflasi naik, maka akan diikuti dengan kenaikan suku bunga simpanan (cost of fund) dan suku bunga pinjaman. 

"Hal tersebut akan menyebabkan pertumbuhan kredit melambat, investasi turun, dan menekan pertumbuhan ekonomi," kata Pengamat Institute for Develompment of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto, Minggu (28/1/2018). 

Menurut dia, penurunan daya beli juga akan berpengaruh pada sumber utama pertumbuhan ekonomi, terutama konsumsi rumah tangga dan Investasi. 

Saat daya beli menurun maka rumah tangga akan menahan konsumsi saat ini, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan ke depan. Berdasarkan data, bahwa kenaikan premium sebesar 23,5% dan solar sebesar 36,4% di November 2014 diikuti oleh inflasi sebesar 3,96% di bulan November-Desember 2014 yang lebih besar dari total inflasi 2017 sebesar 3,61%.

Terlebih, kenaikan harga minyak ditengah ketergantungan impor minyak yang besar, berkonsekuensi pada naiknya permintaan dolar. "Sementara kemampuan peningkatan ekspor masih sangat terbatas, sehingga berpotensi menekan keseimbangan pasar valas yang berisiko mengganggu stabilitas serta nilai rupiah," papar Eko.

Meski demikian, inflasi 2017 terkendali pada level yang rendah dan berada pada sasaran inflasi 4±1%. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan, terkendalinya inflasi 2017 didorong oleh rendahnya inflasi inti dan inflasi volatile food serta terkelolanya dampak kenaikan berbagai tarif dalam inflasi administered prices. 

Selain itu, terkendalinya inflasi 2017 juga didukung oleh faktor positif permintaan dan penawaran, rendahnya tekanan dari eksternal, serta koordinasi kebijakan yang kuat antara BI dan pemerintah di pusat maupun daerah. Sementara itu, berdasarkan Survei Pemantauan Harga BI pada pekan keempat Januari 2018, inflasi bulanan diproyeksikan 0,73% (month to month).

"Kita juga mengidentifikasi ada sumbersumber inflasi, misalnya tadi harga beras, harga daging ayam dan kita sambut baik bahwa pemerintah sudah mengimpor beras karena untuk meyakini tersedianya suplai beras yang cukup,” jelas Agus. Ke depan, inflasi diperkirakan akan berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5±1%.

BI juga akan terus mewaspadai risiko kenaikan inflasi. Untuk itu, koordinasi kebijakan antara BI dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam pengendalian inflasi akan terus diperkuat.

Komentar

Artikel Terkait

Telah dilihat : 13 kali

Euforia Persija Jakarta Juara Part 2

Telah dilihat : 17 kali

Euforia Persija Jakarta Juara

Telah dilihat : 1607 kali

Video klip #2019GantiPresiden