Tiga Bulan Pertama 2019 Sepi Peluncuran Proyek Properti Baru

itoday - Sepanjang hampir 3 bulan pertama 2019, peluncuran proyek dari pengembang terbilang sepi.  Padahal, pertumbuhan properti bisa menjadi gambaran dari pertumbuhan ekonomi suatu negara, tak luput Indonesia.

Saat ini, banyak pengembang menahan diri untuk menelurkan produk-produknya dan mengandalkan penjualan proyek yang sudah selesai dibangun pada tahun-tahun sebelumnya. Salah satu yang menjadi alasan adalah karena menghadapi 2019 yang merupakan tahun politik.

Investasi properti pada tahun politik dinilai segelintir investor kurang menarik dan harus disikapi dengan sangat hati-hati karena pada periode tersebut perekonomian nasional akan sangat rentan, ditambah dengan beragam guncangan dari luar yang berpotensi membawa pelemahan.

Presiden Direktur PT Sentul City Tbk. (BKSL) David Partono mengatakan bahwa menuju tahun politik akan banyak konsumen yang bersikap melihat dan menunggu (wait and see) sehingga dari segi permintaan pun dinilainya tidak akan tinggi.

“Sikap wait and see secara historis memang sering terjadi, tetapi kami harapkan setelah pemilu dengan adanya demand yang tertunda akan mengalir pada semester kedua 2019,” kata David, belum lama ini.

Kondisi permintaan yang menurun akibat sikap melihat dan menunggu tersebut juga yang akhirnya menjadi dasar mengapa pengembang menahan peluncuran produk-produknya.

PT Metropolitan Land Tbk. (Metland) juga menjadi salah satu pengembang yang menahan peluncuran produknya hingga pemilu usai dan perekonomian Indonesia kembali stabil sehingga pasar properti diharapkan kembali pulih.

Direktur Metland Olivia Surodjo mengatakan bahwa penjualan pada awal tahun ini, khususnya untuk proyek-proyek besutan perusahaan yang berkode emiten MTLA ini bergerak agak pelan. “Awal tahun agak pelan, kecuali beberapa proyek. Ya, semester ini akan begitu,” kata Olivia.

Awal tahun ini, Metland masih mengandalkan dan memfokuskan pada penjualan proyek-proyek yang ada dan tidak menargetkan pertumbuhan penjualan terlalu jauh dari tahun lalu, sebesar Rp2,20 triliun. Serupa, menanti pemilu usai menjadi alasan utama.

 

sumber berita / foto : bisnis.com

Komentar

Artikel Terkait