Usai Pilpres 2019, Sektor Properti Bergairah Lagi

Hasil gambar untuk foto rumah

Itoday - Sudah jadi rahasia umum bahwa tren sektor properti nasional melambat sejak 2015. Kendati demikian, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) meyakini, properti akan kembali bergairah di tahun ini, diawali pada semester kedua setelah perhelatan Pilpres 2019 usai.

Direktur Independen CTRA Tulus Santoso mengatakan para pelaku pasar cenderung menunggu hasil perhelatan Pilpres yang akan digelar serentak pada 17 April mendatang.

Namun secara sektoral, ada peluang sektor properti kembali bangkit tahun ini seiring pulihnya sejumlah sektor lain.

"Mestinya diawali semester kedua, selanjutnya 2020-2021 bisa recover, karena sejak 2015 mulai turun. Siklusnya sudah 5 tahun harusnya sudah cukup kembali demand," kata Tulus dalam acara Squawk Box CNBC TV Indonesia, Kamis (14/2/2019).

Perseroan mengapresiasi upaya bank sentral yang memberikan insentif untuk kembali menggairahkan sektor properti dengan relaksasi kebijakan rasio kredit terhadap nilai atau loan to value (LTV) di sektor properti guna mendorong pertumbuhan kredit perumahan. Kebijakan itu mulai berlaku pada awal Agustus 2018 yang memang diarahkan untuk golongan menengah ke bawah.

"Dengan adanya insentif relaksasi LTV, stabilitas bunga saat ini cukup mendukung sehingga membuat pasar mengena ke bawah bisa sustain," ujarnya. 

Untuk mengantisipasi tren rebound, perseroan juga telah mendiversifikasi produk properti. Saat ini, perusahaan punya 75 proyek properti di 33 kota di Indonesia. Seharusnya, kata dia, jika permintaan terus tumbuh dan kondisi makroekonomi yang stabil, hal itu akan memberikan benefit bagi CTRA. 

Tahun ini, perusahaan menggarap tiga proyek dengan harga properti di bawah Rp 1 miliar di Jakarta. "Dari sisi margin menurun sedikit, tapi diharapkan volume secara absolut bisa maintain, developer switch dari biasanya menengah ke atas, kini ke area market menengah ke bawah," kata Tulus.

Tahun lalu, CTRA meluncurkan tiga proyek: CitraLand Vittorio Surabaya, Citra Niaga Plaza Batam dan Newton 2 Jakarta. Ketiga proyek tersebut membukukan marketing sales masing-masing senilai Rp234 miliar, Rp197 miliar dan Rp76 miliar.

Adapun, secara tren kata dia, khususnya di kota besar, permintaan akan properti yang dekat dengan akses transportasi massal memang masih menjadi daya tarik. Oleh karena itu, sejak 2015 pengembang mulai memperhatikan aspek konektivitas tersebut.

"Saat ini tren commuter line, dekat dekat lokasi MRT LRT itu jadi salah satu daya tarik konsumen," ujarnya.

Fitch Ratings Indonesia melakukan stress test atau uji ketahanan guna mengukur kerentanan perekonomian Indonesia jika pemerintah Amerika Serikat (AS) melakukan pengetatan ekonomi lebih lanjut. Hasilnya, sektor properti akan menjadi sektor yang akan terkena tamparan keras akibat kebijakan pengetatan di AS tersebut.

 

sumber berita : cnbcindonesia / foto : jawapos.com

 

Komentar

Artikel Terkait

Senin, , 24 Juni 2019 - 14:09 WIB

Penjualan Properti Masih Lesu pada Semester I

Senin, , 13 Mei 2019 - 13:12 WIB

Usai Pilpres 2019, Sektor Properti Bergairah Lagi

Senin, , 06 Mei 2019 - 09:53 WIB

KAWASAN CINERE: Perlahan Semakin Memikat

Telah dilihat : 120 kali

Wawancara yang Aneh - Pak Leman Eps #3

Telah dilihat : 133 kali

Kambing Naik Alphard