Listrik, Komoditi yang "Khas"

 

 

itoday - Tulisan ini sama sekali tidak terkait dengan proyek listrik 35.000 MW, yang akhir-akhir menjadi berita yang cukup “hangat”.  Ketergantungan kehidupan kita sudah sangat tinggi dengan kondisi suplai Tenaga Listrik. Tetapi umumnya kurang disadari bahwa Listrik adalah suatu komoditi yang sungguh berbeda dengan komoditi lain.

Kalau dalam hal Bahan Bakar Minyak (BBM), yang terutama dikenal masyarakat adalah Pertamina sebagai pemasok utama, seandainya seluruh Kilang Pertamina didalam negeri mengalami gangguan (mudah-mudahan tidak pernah terjadi ! ), maka dalam waktu beberapa hari, Pertamina dengan dukungan penuh dari Pemerintah dapat segera membeli/import dari persediaan yang ada diluar Indonesia. Bagaimana dalam hal Listrik ? Kita sudah pernah, bahkan sering mengalami, gangguan suplai dari Pembangkit Listrik yang ada di Sumatera Bagian Selatan atau Lampung saja, tidak dapat diatasi dengan kelebihan pasok pembangkit di Pulau Jawa, misalnya. Ini karena Sistem Kelistrikan di Pulau Sumatera, belum terhubung (inter koneksi) dengan Pulau Jawa. Inter koneksi antar Pulau-pulau besar, baru ada antara Pulau Jawa-Madura dan Bali.

 

 

 

 

Sebagai Negara kepulauan, pengelolaan Listrik Indonesia, menjadi lebih sulit dan lebih mahal. Biaya investasi untuk inter koneksi antar pulau melalui kabel laut, kira-kira lebih 50 kali dari biaya investasi transmisi kawat udara biasa. Belum lagi kalau jarak kabel laut ini cukup panjang, seperti contoh kabel laut Sumatera ke Jawa, perlu tambahan peralatan pengubah menjadi Arus Searah (DC) terlebih dulu (AC/DC converter).

Pola Beban.

Listrik dibutuhkan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Pola beban masing-masing daerah di Indonesia sangat berbeda. Sistem Kelistrikan yang sudah matang, seperti Jawa-Madura-Bali (Jamali), beban puncak siang hampir sama dengan beban puncak malam. Beban siang dari Kelompok Industri dan Usaha, digantikan dengan beban perumahan dimalam hari. Waktu beban puncak malam   selama ini dikenal antara jam 18.00-22.00. Beban siang diluar Jamali umumnya rendah, dapat hanya 10%-20% beban malam. Misalnya beban puncak malam disuatu Pulau (diluar Jamali) adalah 100 MW, beban siang hanya 10 MW atau 20 MW. Kalau tidak ingin ada pemadaman listrik, maka harus ada kemampuan pembangkit minimal 100 MW, namun ada pembangkit yang dapat dimatikan di siang hari sebesar kira-kira 80 MW. Dinegara industri lain, umumnya beban puncak siang lebih tinggi dari beban puncak malam. 

Jenis Pembangkit.

Tidak semua jenis pembangkit dapat di start-stop, sesuai permintaan beban listrik masyarakat. Misalnya pembangkit dengan bahan batubara, umumnya dioperasikan dengan beban tetap, terus menerus. Untuk proses penyalaan suatu PLTU batubara, dapat memerlukan waktu sampai 48 jam, baru dapat memberikan suplai listrik. Harus ada jenis pembangkit lain yang dapat start-stop sesuai kebutuhan masyarakat. Pembangkit dalamukuran MW yang kecil, mudah di start-stop, umumnya dikenal pembangkit Diesel/Gas Engine dengan bahan bakar minyak (BBM). Ini yang dapat menjelaskan, kalau harga listrik disuatu daerah lebih mahal dibanding daerah lainnya. Apalagi kalau untuk penyediaan BBM, harus diangkut dengan angkutan udara.

Pembangkit Tenaga Air.

Pembangkit dengan penggerak turbin air, dikenal sebagai pembangkit dengan biaya operasi yang murah, walaupun biaya investasinya relatif lebih tinggi dibanding dengan pembangkit dengan BBM.  Umumnya dikenal dua jenis Pembangkit Tenaga Air, pembangkit yang dilengkapi dengan waduk penyimpan air dan pembangkit yang memanfaatkan aliran sungai (“run of river”). Kalau pembangkit dengan waduk air, tentunya selama diluar beban puncak, tidak dioperasikan semua unit. Airnya dapat disimpan untuk operasi semua unit disaat beban puncak.

Listrik dibangkitkan (diproduksi) bersamaan waktunya dengan saat dimanfaatkan. Listrik tidak dapat disimpan dalam jumlah besar. Hanya sedikit  dalam bentuk arus searah (DC) disimpan dalam Accumulator (Accu). Itulah sebabnya Uninterruptable Power Supply (UPS), dilengkapi dengan Accu.  Tidak dapat disimpan selagi harganya murah, untuk dijual ketika harga melonjak tinggi. Pengumuman kenaikan harga listrik dapat dilakukan jauh hari sebelum diberlakukan, berbeda dengan pengumuman kenaikan harga BBM. Walaupun diumumkan hanya 2 atau 3 jam sebelum diberlakukan, umumnya SPBU diserbu pembeli BBM. Karena “khas”nya itu, tidak mungkin dibangun pembangkit yang relatif besar disuatu daerah yang beban listriknya masih sedikit. Contoh ekstrimnya, misalnya orang yang super kaya sekelas Bill Gates, tidak bisa membangun pembangkit  dua unit 1000 MW di Kalimantan, walaupun ada banyak sumber batubara disitu. Karena pembangkit 1000 MW itu perlu beban (load) untuk test juga minimal 1000 MW, selama beberapa hari non stop.  Listrik sebagai “infrastruktur” sangat berbeda dengan jalan raya (jalan tol). Jalan raya dapat dibangun terlebih dulu, walaupun frekwensi  jumlah kendaraan yang  lalu lalang ditempat itu masih rendah. Dengan adanya jalan raya, akan mempercepat perkembangan ekonomi daerah.  Konon Australia giat membangun jalan raya antar kota/Negara bagiannya, selagi  fasiitas Keuangan Negara memungkinkan, walaupun sangat sedikit kendaraan yang menggunakannya.  Tidak demikian dengan Listrik. Pembangkit perlu beban untuk menguji kemampuannya.

Pernah dalam suatu acara talkshow stasiun TV Berita Terkenal, ada “semangat” dari Pimpinan Pengusaha Muda, untuk membangun ribuan MW terlebih dulu di Indonesia Timur, dengan pemikiran sebagai “pancingan” untuk mengundang investor/Industriawan ke Indonesia Timur. Hal ini tidak mungkin.  Jadi pengembangan ukuran pembangkit listrik, harus sesuai perkembangan beban di wilayah tersebut.

Sumber Berita : Kompasiana/Sumber foto : www.google.com
 

 

Komentar

Artikel Terkait