Kestabilan Harga Minyak Dunia Menunggu Hasil Pertemuan di Wina?

Iraqi Oil Minister Jabar Ali al-Luaibi. PHOTO:REUTERS

 

Adanya tuntutan dari beberapa anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk pembebasan dari pemangkasan produksi minyak, cukup berpengaruh terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Pembebasan sanksi internasional perlakuan khusus terhadap Iran sudah dilakukan, dan hasil produksi minyak Irak cukup diperhitungkan sebagai dasar kesepakatan terkait hal tersebut.

 

Diselenggarakannya pertemuan OPEC minggu ini di Wina, Austria, merupakan diplomasi intensif antara negara-negara anggota, yang bertujuan menyelesaikan perbedaan harga. Pedagang minyak dan analis yakin bahwa OPEC akan mencapai kesepakatan untuk mengekang kelebihan pasokan global. Setelah hari pertama pembicaraan di ibukota Austria, Senin (21/11) untuk pertemuan tingkat menteri minggu depan, dan  Gubernur OPEC, Mohamed Oun, mengatakan,” Diskusi berjalan dengan baik. Minyak telah meningkat 6,9% di New York minggu ini, keuntungan dua hari terbesar sejak September”.

Sebelumnya dalam sebuah catatan dari Commerzbank AG, "Kenaikan harga sejak akhir pekan lalu dapat dijelaskan dengan harapan yang berkembang bahwa OPEC akan menyepakati penurunan produksi pada pertemuan pekan depan. Sepertinya Arab Saudi dan sekutunya Teluk tetangga akan mengurangi produksi pada mereka sendiri, meskipun negara-negara lain OPEC tidak meningkatkan output mereka."

Awalnya pembicaraan kesepakatan dibahas di ibukota Aljazair, dengan pengecualian kesertaan dari Libya, Nigeria dan Iran, untuk mengurangi output produksi sebesar 1,6% dari level Januari hingga Agustus 2016, menurut dokumen yang dikutip Bloomberg. Total pemotongan produksi adalah 32,4 MMbpd, dimana Arab Saudi memotong sekitar 442.000 bph (barell per hari) dan Irak memangkas hamper 135.000 bph.

1 blue-barell (bbl) = 158.9873 liter

Nah, dari negara Non-OPEC termasuk Rusia, salah satu eksportir energi terbesar di dunia, akan bertemu dengan anggota OPEC di Wina pada 28 November mendatang untuk membahas kerjasama terkait pasokan minyak. Menteri Energi Alexander Novak telah berulang kali mengatakan Rusia akan lebih memilih untuk membekukan output pada tingkat saat ini daripada membuat kesalahan sebelumnya.

"Anda sudah tahu bahwa Presiden Putin jelas berbicara kemarin tentang perjanjian ini untuk dibekukan.   menurut delegasi Nigeria, Ibrahim Waya. “Kita semua tahu bahwa resikonya tinggi”, lanjutnya.

Diketahui Negara-negara produsen minyak terbesar, bila dikombinasikan memproduksi hampir 45% dari total produksi minyak mentah dunia, adalah Amerika Serikat (AS), Arab Saudi, Russia, dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Dikabarkan dari, West Texas Intermediate (WTI) bahwa untuk pengiriman Januari turun sebanyak 2,2% dan turun 85 sen, atau 1,8%, pada $ 47,39 per barell, pada 12:03 di New York Mercantile Exchange. Brent untuk pengiriman Januari turun 53 sen menjadi $ 48,37 di ICE Futures Europe. Harga minyak dunia ditutup bervariasi pada Selasa (22/11/2016) karena pasar sensitif terhadap setiap berita upaya diplomatik negara-negara produsen dalam menyelesaikan kesepakatan pembekuan produksi minyak dunia. Harga minyak awalnya mengalami kenaikan tapi kemudian merosot tajam.

 

Data Produsen Minyak Bumi Terbesar pada Tahun 2015:

  1. Amerika Serikat         :                 12,704,000 bph

  2. Saudi Arabia              :               12,014,000 bph

  3. Russia                       :               10,980,000 bph

  4. Kanada                      :                  4,385,000 bph

  5. China                         :                  4,309,000 bph

24. Indonesia                   :                   825,000 bph

bph = barrel per hari

(BP Statistical Review of World Energy 2016)

 

 

Komentar

Artikel Terkait

Telah dilihat : 1088 kali

sahabat total episode 2

Telah dilihat : 1064 kali

sahabat total episode 1