Dunia Berlomba-lomba Ciptakan Gedung Berteknologi Tinggi

itoday - Dunia arsitektur berkembang sangat pesat. Saat ini perusahaan kelas dunia bukan sekadar berlomba membangun gedung pencakar langit, namun menciptakan gedung dengan teknologi tinggi atau high-tech building.

Selain menerapkan banyak teknologi canggih dan fitur menarik, sebagian struktur bangunan memiliki bentuk rancangan yang unik dan nonkonvensional. Negara-negara di dunia seperti sedang berlomba melakukan revolusi arsitektur yang inovatif dan futuristik.

Proyek-proyek pembangunan gedung menjamur di mana-mana. Beberapa negara bahkan bersaing menjadi yang terbaik untuk kategori-kategori tertentu. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia, China menjadi pelopor pembangunan gedung-gedung tinggi pada zaman modern.

Para ahli menilai hal itu untuk menunjukkan kapasitas China sebagai negara adidaya. Amerika Serikat (AS), Inggris, Prancis, dan Rusia juga tidak mampu mengimbangi laju pembangunan di China. Negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirates Arab (UEA) dan Arab Saudi juga tidak mau kalah. Tahun ini ratusan bangunan pencakar langit dan bangunan berteknologi tinggi direncanakan bakal rampung. Dengan fungsi gedung yang beragam, para insinyur bangunan mulai memakai bahan baru dan memasang fitur baru. Namun, dari sekian banyak bangunan yang sedang digarap, hanya beberapa yang menyedot perhatian media.

Salah satunya proyek Apple Campus 2 yang diperkirakan rampung pada musim semi ini. Kantor pusat baru perusahaan teknologi Apple itu dibangun di atas lahan seluas 260.000 meter persegi di Cupertino, California, AS. Apple Campus 2 digarap sebanyak 13.000 pekerja bangunan dan menelan biaya hingga USD5 miliar (Rp66,6 triliun). Megaproyek tersebut salah satu warisan yang sedang digarap pendiri Apple, Steve Jobs di usianya yang memasuki 56 tahun. Standar pembangunannya diharapkan dapat sama dengan standar pembuatan produk-produk berteknologi tinggi Apple.

Apple Campus 2 disebut sebagai bangunan futuristik oleh media AS. Berdasarkan laporan Reuters, megaproyek Apple Campus 2 merupakan proyek yang terbilang sangat rumit. Faktanya, beberapa kontraktor di setiap aspek rancangan dan konstruksi keluar-masuk, terlepas apa pun alasannya. Penggarap pertama Apple Campus 2, Skanska USA and DPR Construction, juga keluar. Hal ini menyisakan tanda tanya. Beberapa mantan kontraktor Apple Campus 2 yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan konstruksi bangunan itu harus sempurna tanpa cacat.

Apple Campus 2 tidak dipasangi kabel listrik atau pipa luar. Namun, bangunan itu tetap harus bisa dipelihara, dimodifikasi, dan dibenahi secara lebih mudah jika terjadi sesuatu. Kerangka dasar Apple Campus 2 unik karena mirip piring terbang. Tapi, menurut dosen dari Universitas California Louise Mozingo, secara fungsi, ruangannya kurang efektif. “Saya melihat bangunan itu bukan untuk memaksimalkan produktivitas ruang kantor, tapi lebih kepada penciptaan sebuah kantor pusat yang simbolis,” kata Mozingo.

Hampir semua desain interior Apple Campus 2 diambil dari desain yang ada di dalam produk-produk Apple. Para pekerja bangunan juga harus memakai sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari atau lecet pada setiap komponen. Markas besar Apple tersebut dinilai sudah ibarat sebuah lukisan yang tidak boleh disentuh siapa pun. Penyelesaian Apple Campus 2 masih berjalan. Di UEA, bangunan Museum of the Future sudah berdiri kokoh dan dibuka Wakil Presiden Sheikh Mohammed bin Rashid yang juga perdana menteri (PM) UEA kemarin.

Gedung yang dibangun Dubai Future Foundation itu menjadi salah satu gedung yang ramah lingkungan dan tetap modern. “Di dalam pembangunan, kami ingin menginspirasi masyarakat untuk berinovasi dan mencari ide dalam menyelesaikan masalah untuk masa depan yang lebih baik,” kata Rashid, dilansir The National.

Museum of the Future akan aktif memproduksi penemuan baru yang diharapkan berkontribusi dalam menjadikan UEA sebagai pusat inovasi global. “Masa depan merupakan milik mereka yang mampu berimajinasi, merancangnya, dan membuatnya. Masa depan harus kalian ciptakan,” tandas Rashid.

Konsep gedung modern lain yang tidak kalah dari Museum of the Future adalah Agora Garden Tower (Tao Zhu Yin Tuan) di Taipei, Taiwan. Bangunan yang dirancang arsitek asal Belgia Vincent Callebaut itu terinspirasi dari struktur heliks ganda DNA. Bangunan yang melilit sekitar 4,5 derajat tersebut akan terdiri dari 40 apartemen mewah. Ruang balkon tower juga akan ditanami 23.000 pohon. Menurut Callebaut, gedung itu akan mampu menyerap hingga 130 ton CO2 di setiap tahun. Selain itu, sistem pengairan toilet juga bisa menggunakan air hujan yang sudah didaur ulang.

Gedung yang dilengkapi sarana olahraga itu diperkirakan rampung pada September 2017. Gedung-gedung dengan teknologi tinggi (high-tech) tampaknya memang akan menjadi kebutuhan dalam beberapa tahun ke depan. Pada 31 Oktober hingga 2 November 2017 di Moskow, Rusia, akan digelar International Exhibition tentang gedung dengan teknologi tinggi.

Dalam eksibisi tersebut akan dikenalkan tentang building automation system, smart home systems, smart city technologies, dan energy efficiency.


Sumber: Okezone.com

Komentar

Artikel Terkait

Minggu, , 12 Februari 2017 - 15:12 WIB

Dunia Berlomba-lomba Ciptakan Gedung Berteknologi Tinggi

Telah dilihat : 1919 kali

sahabat total episode 2

Telah dilihat : 1891 kali

sahabat total episode 1