Parkinson, Penyakit Yang Menggerogoti Hidup Muhammad Ali

itoday - Beberapa waktu yang lalu, dunia dikagetkan dengan kabar meninggalnya Muhammad Ali, seorang legenda tinju yang di akhir kariernya harus “bertanding” melawan sebuah penyakit. Namun, apa sebenarnya penyakit Parkinson, apa dampaknya pada tubuh, dan kenapa seseorang bisa mengidapnya?

Muhammad Ali mengidap Parkinson bukan karena bertinju

Tahun 1984, tiga tahun setelah ia pensiun dari ring tinju, Muhammad Ali didiagnosis mengidap penyakit Parkinson. Sejak saat itu, kemampuan motoriknya menurun. Ia tidak sanggup berbicara seperti orang pada umumnya.

“Sejak saat itu, Parkinson memang membuatnya tidak bisa berbicara pada orang lain, namun lewat mata ia tetap berbicara. Lewat hati, ia tetap berbicara padaku, pada keluarga,” ujar istrinya, Lonnie Ali, dilansir dari CNN.

Istrinya menegaskan bahwa berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari dokter, penyakit yang diidap Muhammad Ali bukanlah karena dia menerima begitu banyak pukulan di karir tinjunya, melainkan karena faktor genetik.

Sepuluh pekan sebelum pertarungannya melawan Larry Holmes, tim dokter dari Mayo Clinic menyerahkan laporan kesehatan ke Nevada State Athletic Commission dan menggambarkan bahwa terdapat sebuah lubang kecil di lapisan luar otak yang menyebabkan Muhammad Ali merasakan kesemutan di tangan dan melantur saat berbicara.

Perjuangan melawan penyakit tidak membunuh jiwa sosial yang dimiliki Muhammad Ali. Pada tahun 1997, ia dan istrinya justru mendirikan Muhammad Ali Parkinson Center yang bertujuan memberi perawatan bagi para pengidap penyakit yang serupa dengan Ali, yaitu Parkinson.

Apa itu Parkinson?

Menurut Mayo Clinic, Parkinson adalah gangguan progresif pada sistem saraf, dan berpengaruh pada kemampuan bergerak pengidapnya. Penyakit ini dimulai dengan tremor kecil di bagian tangan, atau biasanya otot terasa kaku, dan semakin parah dari waktu ke waktu.

Tidak ada cara dalam bentuk tes untuk mengidentifikasi Parkinson, maka dari itu diagnosisnya kadang tidak terduga. Dalam keseharian, pengidap Parkinson akan merasakan sulit bergerak dan bicara. Gejala awal yang terlihat dari luar adalah melambatnya gerakan, berbicara melantur, dan sering kehilangan keseimbangan.

Parkinson menyerang 4 juta penduduk dunia setiap tahunnya. Penelitian membuktikan bahwa pria lebih riskan terjangkit Parkinson dibanding wanita. Umumnya, Parkinson menyerang kita yang berusia di atas 50 tahun.

Apa yang menyebabkan Parkinson?

Menurut National Institute of Health, pada dasarnya, tubuh Anda menggunakan bahan kimia yang disebut dopamin untuk mengontrol gerakan. Dopamin diproduksi oleh neuron pada otak. Parkinson adalah proses di mana jumlah sel pada dopamin terus berkurang dan menyebabkan kesulitan dalam bergerak.

Para ilmuwan belum mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab utama terjadinya hal tersebut. Namun, dugaan sejauh ini adalah kombinasi keturunan genetik, mutasi gen, dan pengaruh lingkungan. Parkinson Disease Foundation mengatakan bahwa 15% sampai 25% penderita Parkinson memiliki keturunan keluarga yang juga mengidap Parkinson. Studi terkini menduga terdapat kaitan Parkinson dengan bahan kimia seperti TCE dan PERC, namun hubungan ini belum terbukti secara sah.

Apakah Parkinson bisa disembuhkan?

Sejauh ini, National Institute of Health menyatakan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penderita Parkinson. Namun, dokter dapat membantu pasien terjangkit saat gejala sudah mulai terasa.

Sebuah obat bernama Levodova sering diberikan kepada penderita untuk membantu otak mereka memproduksi lebih banyak dopamin. Resep ini sering dikombinasikan dengan Carbidopa yang mampu membantu membawa Levodopa ke otak.

U.S Food and Drug Administration menyetujui cara stimulasi otak dalam untuk mengurangi depresi, hal ini membantu pencegahan saat berada di fase gejala Parkinson. Elektroda yang ditanamkan ke otak dapat membantu mengontrol gerakan.

Olahraga tai chi sering digunakan pasien yang sudah mengalami gejala Parkinson. Transplantasi dalam jaringan-jaringan dopamin dapat membantu pencegahan Parkinson, hal ini telah teruji dalam penelitian yang dilakukan Harvard University. Namun, belum ada obat yang dapat secara signifikan mencegah potensi Parkinson.

Lantas, adakah kaitan terjangkitnya Parkinson dengan harapan hidup? Sebenarnya Parkinson tidak secara langsung menyebabkan kematian. Namun, penurunan fungsi otak tentunya membawa kita pada gangguan kesehatan yang lain, serta menurunnya kualitas hidup seseorang secara keseluruhan.

Sumber : hellosehat.com / Gambar : helodoc.com

Komentar

Artikel Terkait