Memanas! Papan Nama Kantor DPC PDIP Kota Pasuruan yang Disegel Diturunkan

itoday - Penolakan terhadap keputusan DPP PDIP menunjuk Plt Wali Kota Pasuruan Raharto Teno Prasetyo sebagai Ketua DPC PDIP Kota Pasuruan terus berlanjut. Setelah penyegelan kantor, belasan orang menurunkan papan nama partai dan menggantinya dengan banner 'Promeg 96'.

Banner berwarna hitam tersebut tertulis, 'Posko Garda Pelopor Perubahan dan Promeg 96 Kota Pasuruan'. Di bawah tulisan warna putih itu terdapat gambar tiga tangan terkepal dan tulisan besar 'Promeg 96'.

Penurunan papan nama dan pemasangan banner dilakukan belasan orang yang menyebut diri kader PDIP militan yang tergabung dalam Promeg (Pro Mega) 1996. Tampak di antara mereka dua tokoh PDIP Pasuruan, Pudjo Basuki yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Pasuruan dan Luluk Mauludiyah yang juga mantan Ketua DPC dan Sekretaris DPC demisioner.

"Saya nggak mau kantor ini dipakai PDIP selama dipimpin Teno. Saya akan berikan sebagai Posko Promeg 96. Tujuannya saya ingin mengumpulkan orang-orang Promeg yang militan. PDIP kan hasil dari Promeg," kata Luluk di lokasi, Jalan KH Mansyur, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, Pasuruan, Selasa (9/7/2019) malam.

Luluk mengatakan banyak kader senior yang merasa kecewa dengan penunjukan Teno sebagai ketua. Alasannya, Teno dinilai kader baru yang belum punya prestasi dan tak memberikan sumbangsih membesarkan partai.

"Mereka kecewa dengan keputusan DPP. Alasannya hak prerogratif untuk strategi partai, yang mana. Saya tahu track record-nya Teno, apakah dia tokoh? Apa prestasinya di PDIP Pasuruan?" tandasnya.

Luluk mengatakan meski Teno berhasil menjadi Wakil Wali Kota dan sekarang menjadi Plt Wali Kota Pasuruan, suara PDIP Pasuruan malah jeblok. Padahal, kata Luluk, saat dicalonkan dalam pilwali, Teno berjanji meningkatkan suara partai dua kali lipat.

"Pasuruan dapat dua kursi (Pileg 2019) itu gara-gara siapa, jangan disalahkan ke kami ke struktural partai. Dia waktu masuk dicalonkan jadi wakil wali kota visi misinya meningkatkan kursi, menambah kursi, sekarang malah jeblok. Dapat dua. Saat saya jadi ketua, tanpa kepala daerah, dapat tiga," terangnya.

Luluk yang mengaku ikut susah payah membesarkan partai selama 32 tahun menegaskan, PDIP Kota Pasuruan harus dipimpin kader militan. "Bukan orang-orang baru yang nggak pernah di partai politik, nggak ada aura dia ingin membesarkan partai," terangnya.

"Katanya mau komunikasi bahas kantor ini, saya tahu dia, itu hanya basa-basi saja," pungkas Luluk sembari kembali menegaskan dia yang punya hak atas bangunan kantor DPC tersebut.

 

Sumber

Komentar

Artikel Terkait