Kate Spade Diduga Bunuh Diri, Akibat Tekanan Industri Fashion?

itoday - Kematian desainer ternama Kate Spade dengan dugaan bunuh diri di apartemennya di New York, Amerika Serikat, Selasa, 5 Juni 2018, adalah kejadian tragis terbaru yang dilakukan perancang busana kenamaan. Sejak 2010, tercatat dua desainer ternama lainnya telah bunuh diri dengan cara yang sama, yakni Alexander McQueen pada 2010 dan L'Wren Scott pada 2014.

McQueen ditemukan tewas tergantung di apartemennya di London, Inggris, tepat sebelum acara peragaan busana internasional dimulai.

Kelly Cutrone, seorang penerbit fashion memuji pengaruh Spade pada industri ini. Dia menyebut Spade sebagai versi wanita Ralph Lauren dan membawa kembali era Americana ke dalam dunia fashion.

“Industri ini endemik dengan bunuh diri, kebangkrutan, depresi, dan kecanduan. Banyak orang di industri mode mengalami kesulitan. Proporsinya sangat tinggi,” jelasnya.

Celebrity Stylist Phillip Bloch, yang telah mengenal Spade selama beberapa dekade, mengungkapkan kekecewaan atas bagaimana tekanan industri fashion tampaknya memperburuk perjuangan pribadi individu yang terlibat.

“Ada banyak tekanan pada orang untuk menjadi relevan. Ritel adalah bencana. Penjualannya buruk. Tidak ada loyalitas dan itu sangat bergolak. Semua orang mencintai Anda kemarin, tetapi hari ini mereka tidak menyukai dan besok siapa yang tahu?” tuturnya.

“Kita hidup di dunia yang dangkal dan tak nyata, tapi tidak ada yang benar-benar mendengar apa yang Kate katakan kepada mereka saat dia benar-benar depresi,” lanjutnya.

Menurut Bolch, industri ini minim rasa empati dan respek yang sesungguhnya.

“Tidak ada tempat yang lebih sepi daripada posisi puncak. Selalu ada surut. Saya pikir kita akan melihat lebih banyak lagi kondisi ini,” tegasnya.

 

Komentar

Artikel Terkait