Sri Lanka Jadi Negara Terbaik Dunia untuk Travelling 2019

itoday - Siapa yang tidak mengenal Sri Lanka. Negara kepulauan yang berada di sebelah utara Samudera Hindia ini memiliki banyak kebudayaan dan destinasi wisata alam yang dapat dieksplor. Bahkan, Sri Lanka menjadi negara terbaik di dunia untuk dikunjungi pada 2019 versi Lonely Planet.

Pariwisata di Sri Lanka sedang bertumbuh, jalur transportasinya membaik, hotel-hotel baru sudah dibangun dan semakin banyak atraksi yang dapat di lihat. Sederet alasan tersebut menjadikan pulau Asia Selatan ini dipilih sebagai tempat teratas dalam penghargaan tahunan the guidebook publisher’s annual Best in Travel awards.

"Sri Lanka sudah terkenal di kalangan pelancong karena religi dan budaya, kuil-kuil tua, satwa liar yang beragam dan mudah diakses, tempat berselancarnya menarik dan masyarakat yang ramah meski pernah terjadi konflik sosial selama puluhan tahun. Ini menjadi negara yang hidup kembali,” kata penulis Lonely Planet, Ethan Gelber dalam buku Best in Travel 2019, seperti dikutip iNews.id melalui TheGuardian, Selasa (23/10/2018).

Berada di Sri Lanka, traveler akan mendapatkan pengalaman luar biasa, termasuk melihat satwa liar, seperti kumpulan gajah di taman nasional Minneriya, monumen Buddha berusia ribuan tahun, hiking dan naik kereta melalui perkebunan teh Hill Country.

Kunjungan wisatawan ke Sri Lanka telah meningkat secara dramatis sejak terjadinya konflik selama 26 tahun. Dari 447.890 wisatawan pada 2009 menjadi tertinggi sepanjang masa sebanyak 2,1 juta pada tahun lalu. Angka ini, menurut Badan Pengembangan Pariwisata Sri Lanka akan meningkat dua kali lipat pada 2020.

Beberapa jalur kereta api telah dibuka di wilayah utara, di mana daerah tersebut sebelumnya dianggap terlalu berbahaya bagi para turis. Rute kereta api yang indah di Sri Lanka sekarang menjadi yang terbaik di dunia.

Jalan raya juga telah dibangun di sepanang selatan Matara, dan jumlah rute penerbangan domestik telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, dari Ibu Kota Kolombo di pantai timur, ke Batticaloa di seberang pulau. Penerbangan tersebut hanya butuh waktu 45 menit.

Investasi besar telah bertumbuh, seperti homestay hingga retret eko kelas atas. Tempat ini mirip the Wild Coast Lodge’s cocoon di taman nasional Yala. Jaringan hotel internasional seperti Shangri-La, Movenpick, Sheraton, dan Grand Hyatt juga sudah dibangun.

Pemandangan berselancar di Sri Lanka terus memikat wisatawan untuk berkunjung. Semakin banyak pantai yang dapat diakses. Operator tur kini menawarkan pendakian hutan, di samping liburan yoga dengan perawatan Ayurveda tradisional.

Ada juga atraksi gratis, seperti ritual puja berwarna-warni di puncak bukit Koneswaram Kovil, Trincomalee di timur laut, Pasar utama Pettah di Kolombo, dan kota tua Galle di selatan.

Namun, di balik peningkatan tersebut, Asha de Vos, ahli biologi kelautan dan pendiri organisasi konservasi yang berbasis di Sri Lanka Oceanswell mengatakan, overtourism sekarang menjadi masalah besar, beberapa konservasionis telah menyatakan keprihatinan atas kecepatan pembangunan di daerah-daerah tertentu.

“Pariwisata adalah generator pendapatan utama bagi negara. Sayangnya, banyak dari pariwisata terfokus pada jumlah wisatawan bukan investasi yang mereka buat di negara ini,” kata Asha de Vos.

“Untuk mengakomodasi jumlahnya, pariwisata membangun lebih banyak hotel dan infrastruktur serta mengambil alih ruang-ruang alami. Tekanan terhadap satwa liar dan situs budaya sangat besar dan merusak. Pembangunan berlebihan sedang berlangsung dan tidak ada habisnya. Hal ini karena kurangnya koordinasi dan perencanaan, serta banyak hotel kosong. Pariwisata memiliki sisi positifnya, tetapi jika dilakukan sembarangan dan tanpa perencanaan, akan menghancurkan sumber daya," katanya.

De Vos mengatakan, pembangunan memengaruhi kawasan pesisir dan taman nasional, musim puncak turis telah menyebabkan peningkatan polusi dari sampah yang tidak dibuang dengan benar. Dia percaya pariwisata di Sri Lanka dapat bermanfaat tetapi pemerintah perlu mengatur, mendidik, memiliki visi jangka panjang dan melindungi area dari pembangunan yang berlebihan.

Badan amal hak asasi manusia juga mengkritik perkembangan pariwisata berskala besar karena dampak negatifnya terhadap masyarakat setempat. Lonely Planet's Best in Travel mencantumkan 10 negara, kota, dan wilayah teratas di samping pengalaman perjalanan lain untuk dikunjungi tahun depan.

Jerman menduduki peringkat kedua sebagai negara yang wajib dikunjungi pada 2019 setelah Sri Langka. Urutan ketiga diduduki Zimbabwe, di mana turis mulai kembali meningkat setelah pengunduran diri Robert Mugabe.

 

Sumber: inews.id/Foto: gadventures.com

 

Komentar

Artikel Terkait