Pesona Penuh Misteri Gunung Anak Krakatau

itoday - Menjulang di tengah 'selimut' biru Selat Sunda bak pancang atau kadang malah jadi batas pandangan, Gunung Anak Krakatau hadir dengan segala pesona dan misteri di baliknya. Membikin tak sedikit orang takjub, penasaran, mungkin bahkan ngeri.

Sebagaimana diketahui, kemunculan gunung tersebut terbilang fantastis karena kembali pada ledakan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Beberapa bulan setelah ledakan yang dampaknya meluas hingga ke belahan dunia lain, ahli gunung api Verbeek dan ahli botani Treub meninjau Krakatau.

Pasca-letusan tersebut, Krakatau hancur sama sekali. Mulai 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau. Ia sangat aktif dan terus bertumbuh.

Dilansir dari dispar.bantenprov.go.id, Selasa (25/12/2018), tinggi Anak Krakatau yang tercatat makin bertambah jadi daya tarik lain bagi pelancong. Menurut para ahli, tinggi gunung tersebut bertambah sekitar 5 sentimeter tiap bulan.

Penuh misteri, namun eksotik, mengerikan, tapi memesona. Demikian kiranya kesan yang didapatkan ketika berkunjung ke tempat yang telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia pada 1991 tersebut.

Bersama dengan pemandangan alam menawan, ragam tumbuhan yang dilindungi seperti 206 jenis jamur, 13 jenis lichenes, 61 tumbuhan paku, dan sekitar 257 jenis spermatophyta, ditambah berbagai jenis fauna seperti ular, kadal, dan penyu juga terdapat di pulau ini.

Walau sedemikian eksotis, Gunung Anak Krakatau sebenarnya tidak dibuka untuk wisatawan umum. Mengingat statusnya sebagai cagar budaya, wilayah ini diperuntukkan hanya bagi ilmuwan dan peneliti.

Secara prosedur, setiap orang yang bakal berkunjung ke sini harus mengurus perizinan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Bandar Lampung. Dari situ, pejabat berwenang akan mengeluarkan Surat Izin Masuk Konservasi atau SIMAKSI jika kunjungan tersebut diizinkan.

Mengingat potensi dan pesona yang ada di Gunung Anak Krakatau, tak sedikit pihak, termasuk Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung Budiharto, yang mendorong suatu saat ini kawasan ini bakal jadi taman wisata alam.

 

(Sumber)

 

Komentar

Artikel Terkait