Kisah Makam Keramat di Tengah Jalan Raya Kota Purwokerto

itoday - Sebuah makam berbentuk kotak persegi panjang berada di tengah simpang tiga jalan timur Alun-Alun Purwokerto. Inilah bangunan yang disebut sebagai Makam Ragasemangsang, makam tua keramat di tengah jalan.

Makam yang berada tak jauh dari  Alun-alun Kota Purwokerto. Konon, dari bangunan tersebutlah, kemudian dijadikan nama jalan di sebelah timur kantor pusat Pemerintahan Kabupaten Banyumas, yakni Jalan Ragasemangsang.

Letak makam ini berimpitan langsung dengan kompleks Pendopo Bupati Banyumas, tepatnya di Kelurahan Sokanagara, Purwokerto utara. Bentuknya mengingatkan kita pada benteng-benteng kuno masa lalu.

Mayoritas warga Purwokerto mengetahui bangunan tersebut merupakan bangunan makam yang sudah ada sejak puluhan tahun silam. 

Pintu kecil berukuran 70 sentimeter dengan atap melengkung berada di dinding selatan. Di dinding barat dan timur terdapat semacam lubang intai. Bagian atap tertutup rapat oleh cor yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda.

Mengintip ke dalam makam tua tengah jalan, ada kembang tujuh rupa yang dialasi kertas koran. Bungan itu tampak masih segar. Kelihatannya, seseorang baru saja meletakkan di dalam makam keramat, pada dini hari atau saat pagi menjelang.

Tak terbilang pemerintah berupaya memindah makam keramat yang tentu mengganggu lalu lintas. Namun, upaya pemindahan makam tua itu selalu gagal. Pemborong atau bahkan petinggi daerah “diimpeni” atau bermimpi bertemu dengan penghuni makam yang tak mau dipindah.

Risiko bagi pemindah makam pun besar. Konon suatu ketika, seorang pekerja pingsan mendadak ketika menggali di seputaran area makam tua nan keramat di tengah jalan itu. Bahkan, konon, beberapa lainnya sakit mendadak dan akhirnya meninggal dunia.

Makam keramat tersebut adalah makam seorang tokoh sakti bernama Ragasemangsang. Saking saktinya, Ragasemangsang hanya bisa mati jika bagian tubuhnya dipotong menjadi beberapa bagian.

Itu pun belum cukup. Bagian tubuhnya sama sekali tak boleh menyentuh tanah. Oleh sebab itu, tubuhnya harus digantung agar tak menyentuh tanah.

Suatu hari, Ragasemangsang bertarung melawan seorang tokoh antagonis bernama Kyai Pekih. Ternyata, Kyai Pekih adalah tokoh yang juga memiliki kesaktian serupa.

Dalam pertarungan itu, Ragasemangsang berhasil mengalahkan Kyai Pekih. Maka, tubuh Kyai Pekih itu digantung di pohon beringin yang saat itu tumbuh di sekitar petilasan Ragasemangsang.

 

Berbagai Sumber

Komentar

Artikel Terkait

Telah dilihat : 100 kali

Wawancara yang Aneh - Pak Leman Eps #3

Telah dilihat : 107 kali

Kambing Naik Alphard