Banyak Orang Sering Ibadah di Masjid tapi Hidupnya Susah …

Hasil gambar untuk foto orang sholat berjamaah

itoday - DUNIA memang sering kali tidak adil. Banyak orang yang kita lihat sering beribadah di masjid tapi hidupnya seakan susah. Hutangnya di mana-mana. Rumahnya sempit dan ia sering sakit-sakitan. Ada juga sebagian orang yang banting tulang memeras keringat dari pagi sampai sore untuk mencari nafkah halal buat keluarganya.

Tapi yang ia dapat tidak seberapa. Gajinya habis untuk menafkahi istri dan anaknya atau orangtuanyadi kampung. Namun ada sebagian orang yang begitu mudahnya mencari rezeki. Meski dengan korupsi atau menyuap, ia bisa menjadi kaya dan dihormati banyak orang. Orang-orang menganggapnya sebagai orang hebat dan besar. Ia didahulukan dan dimuliakan.

Begitulah dunia sering kali tidak adil. Dunia masih memberikan tempat ‘mulia’ bagi orang-orang yang kafir dan jahat. Namun tidak dengan akhirat. Di akhiratlah semua balasan kebaikan akan disempurnakan. Yang hina akan menjadi mulia, yang miskin menjadi kaya, dan yang rendah menjadi tinggi.

Dalam surat al-Waqi’ah Allah ta’ala berfirman:

“(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).” (Al-Waqi’ah: 3)

Surat Al-Waqiah adalah surat yang terdiri dari 96 ayat, termasuk golongan surat Makiyyah. Surat ini merupakan surat ke-56 dalam Al-Quran dan terdiri dari 3 ruku. Surat Al-Waqiah di turunkan setelah surat Thaa Haa, dinamai Al-Waqiah karena diambil dari perkataan Al-Waqiah yang ada pada ayat pertama surat ini.

Dalam surat ini diterangkan tentang hari kiamat, yaitu balasan yang di terima oleh orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. Dan juga di terangkan tentang penciptaan Allah dan adanya hari kebangkitan.

Surat Al-Waqi’ah memiliki banyak keutamaan. Abu ‘Ubaid menceritakan dalam kitab Fadhoil Amalnya bahwa Ibnu Mas’ud meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ كُلَّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

“Barangsiapa membaca surat al-Waqi’ah setiap malam maka ia tidak akan tertimpa kemiskinan selamanya”

Ubay bin ka’ab berkata bahwa Rasullulah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Barang siapa yang membaca surat Al-Waqi’ah, ia akan dicatat tidak tergolong pada orang-orang yang lalai.”

Yang rendah menjadi tinggi

Di antara gambaran hari kiamat yang diilustrasikan oleh surat Al-Waqi’ah adalah tentang penyempurnaan balasan Allah ta’ala di akhirat. Setiap amalan yang dilakukan di dunia pasti akan mendapatkan balasan. Namun tidak semua amalan tersebut akan dibalas kontan di dunia.

Sebagian ganjaran ada yang kontan dan sebagian lain ada yang Allah simpan untuk dibalaskan di akhirat. Demikianlah Allah mengatur kehidupan dunia ini sehingga ia hanyalah ladang beramal bukan tempat balasan.

Maka banyak orang mengatakan dunia ini tidak adil. Syaikh Ratib An-Nabulsi dalam ceramahnya mengatakan, “Semua nama-nama Allah itu baik dan semuanya bisa langsung terbukti ketika di dunia. Nama Allah ar-Rahiim (Maha Pengasih) bisa kita lihat ada pada makhluk Allah. Bagaimana seorang ibu menyayangi anaknya, bahkan induk hewan pun juga menyayangi anaknya. Nama-nama Allah al-Hakiim, al-Lathiif, al-Qadiir, al-Jabbar dan nama-nama lainnya semuanya terbukti terjadi di dunia, kecuali al-‘Adl (Maha Adil). Ia terbukti terjadi di dunia hanya sebagian, dan akan disempurnakan pada hari kiamat”.

Pada hari kiamat seluruh amalan kita akan dibayar kontan. Bahkan amalan kebaikan akan dilipatgandakan berkali-kali lipat. Seseorang yang memiliki derajat tinggi di dunia bisa terhina di akhirat. Sebaliknya, orang yang dianggap rendah waktu di dunia bisa memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Imam Ath-Thobari dalam tafsirnya mengatakan, “Beberapa kaum yang lemah ketika di dunia akan diangkat oleh Allah ta’ala ke rahmat dan surga-Nya”.

Az-Zamakhsyari dalam kitabnya Al-Kasysyaaf menafsirkan ayat ini dengan berbeda bahwa yang dimaksud ayat ini ialah pada hari kiamat segala sesuatu akan bergoncang dengan hebat sehingga semuanya terlepas dari tempat asalnya. Maka sebagian yang tinggi menjadi rendah dan sebagian yang rendah menjadi tinggi. Bahkan langit pun akan jatuh berkeping-keping, bintang saling bertabrakan, dan gunung beterbangan seperti awan.

Larangan sombong dan merendahkan orang lain

Biasanya kita cepat sekali menilai seseorang. Hanya dengan melihat penampilannya kita sudah mengambil satu kesimpulan. Karena ia bekerja sebagai pembantu, kita langsung merendahkannya. Karena ia berkulit hitam, kita langsung memarginalkannya. Karena ia pendek, buruk rupa, kita langsung menganggap diri kita lebih tinggi.

Padahal seseorang tidak bisa dinilai hanya dari penampilannya. Bisa saja seseorang yang kita anggap rendah ternyata di sisi Allah memiliki derajat yang agung. Seorang pembantu yang menafkahi keluarga dan orangtuanya di kampung bisa saja lebih mulia di sisi Allah dari pada seorang menteri.

Sebaliknya, orang yang kita agung-agungkan belum tentu mulia di mata Allah. Tidak dijamin orang yang berkedudukan tinggi akan disenangi oleh Allah. Allah tidak menilai penampilan kita tapi hati, iman dan ketakwaan kita. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad dan rupa kalian, namun Dia melihat hati dan amalan kalian” (HR. Muslim)

Maka janganlah kita terlalu mudah menilai seseorang. Bisa saja orang yang tinggi di dunia Allah rendahkan di akhirat dan orang yang rendah di dunia Allah tinggikan di akhirat. Wallahu a’lam. []

 

sumber berita/foto : Islampos

 

 

  

 

Komentar

Artikel Terkait

Selasa, , 21 Mei 2019 - 09:14 WIB

Ini Masjid Terapung di Selat Terpanjang Dunia

Rabu, , 15 Mei 2019 - 08:51 WIB

7 Tempat Rahasia di Masjidil Haram