Kritik Metafisika Ibn ‘Arabi

 

 

 

 

Judul Buku : Teologi Negatif Ibn ‘Arabi; Kritik Metafisika Ketuhanan 
Penulis: Muhammad al-Fayyadl 
Penerbit : Penerbit LKiS, Yogyakarta 
Cetakan: I, Mei 2012  
Tebal : xvii + 276 hal. 
Peresensi: Munawir Aziz*
<>
itoday - Salah satu sufi terbesar dalam sejarah peradaban Islam, adalah Ibn ‘Arabi. Beliau lahir pada 17 Ramadhan 560 H, atau 28 Juli 1165 di Mursia, Spanyol bagian tenggara, dan bernama Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad ibn al-‘Arabi al-Ta’i al-Hatimi. Tahun kelahirannya bertepatan dengan tahun wafatnya Syech Abdul Qodir al-Jilani, yang menimbulkan spekulasi sebagai penerus sufi terbesar. Ibn ‘Arabi lahir dan tumbuh pada masa kekuasaan Dinasti Murabithun yang dilanjutkan Dinasti al-Muwahhidun, dengan kontestasi kuasa di kalangan Islam dan Kristen di Andalusia. 

Ibn Arabi merupakan seorang filsuf, sufi dan peziarah yang tangguh untuk menyelami lautan ilmu. Perjalanan beliau dimulai pada usia 28 tahun pada 1193, Ia berkelana dari satu kota ke kota lain, untuk bertemu dengan sufi-sufi besar pada zamannya, dan berguru dengan mereka. Di antaranya mengaji kitab Khal al-Na’layn Ibn Qashi (Tunis), Abd al-Aziz al-Mahdawi, Muhammad ibn Qasim ibn ‘Abd al-Rahman al-Tamimi al-Fasi, Abu ‘Abd Allah al-‘Arabi, Abu Abbas al-Hariri, dan beberapa ulama lain. 

Ibn Arabi menyelesaikan perjalanan di Damaskus, pada 627 H/1229 M. Di kota ini, ia menulis kitab Fushush al-Hikam, dan merampungkan naskah Futuhat al-Makkah, sampai akhirnya pada 638 H/1240 ia menghembuskan nafas terakhir. Kedua naskah tersebut, menggenapi karya-karya lain Ibn ‘Arabi: Tarjumanal-Asywaq, al-Dzakhair wa al-A’laq, Rasail ibn ‘Arabi.  

Teologi negatif 

Dari sosok Ibn ‘Arabi inilah, Muhammad al-Fayyadl, mengembangkan riset tentang teologi negatif dalam Islam. Riset ini merupakan kombinasi dari dua model pencarian. Pertama, pencarian tematis atas wacana teologi negatif dalam Islam dan agama-agama. Dalam perspektif ini, ia berusaha menemukan “struktur” teologi negatif secara umum, yang dapat diabstraksikan secara konseptual dan a priori murni.

Kedua, pencarian biografis atas teologi negatif dalam sosok Ibn ‘Arabi. Dalam perspektif ini, ia berusaha menemukan konsep teologi negatif dari sosok yang lebih dikenal sebagai sufi daripada dianggap sebagai pemikir (hal. 246). Dengan demikian, riset yang dilakukan Mohammad al-Fayyadl ini tidak hanya berkontribusi bagi diskursus filsafat dan metafisika yang telah ada, sekaligus menguji nomenklatur Ibn ‘Arabi yang telah mapan. 

Teologi negatif Ibn ‘Arabi berdasar pada pernyataan: kullu man hara washala, wa alladzi ihtada infashala(Barangsiapa kebingungan, maka ia telah sampai pada Tuhan. Dan barangsiapa merasa mendapat petunjuk, maka ia telah terpisah dari Tuhan). Jika teologi negatif Ibn ‘Arabi mempunyai tujuan, maka tujuan itu tidak lain adalah membawa seseorang untuk merendahkan diri kembali menjadi hamba Allah. Penegasan kepada kualitas kehambaan merupakan penegasan Ibn ‘Arabi pada pentingnya mengakui bahwa pengetahuan memiliki batas, dan tidak pernah secara final menjangkau “Tuhan” dan mempersepsikannya (hal. 244-5). Negativitas dalam teologi Ibn ‘Arabi, dalam catatan al-Fayyadl, terletak dalam tiga hal yang penting dikaji, yaitu negativitas dalam wujud; negativitas dalam “Tuhan”, dan negativitas dalam relasi Tuhan dengan selain-Nya. 

Dalam pandangan al-Fayyadl, ada dua ciri yang perlu diketahui dalam menjelaskan definisi teologi negatif: pertama, teologi negatif menunjukkan suatu pola “saying not” tentang Tuhan, bahwa ungkapan apapun tentang Tuhan harus dinegasikan. Kedua, teologi negatif menunjukkan pola lain yang berbeda dari pola pertama, yakni not-saying, yang tidak pernah berkata apa-apa tentang Tuhan (hal. 97-8). 

Jika yang pertama mengindikasikan bahwa manusia tidak pernah mengetahui hakikat Tuhan, dari sudut pandang penginderaan dan pengetahuan. Mengatakan “Tuhan tidak ada” tidak hanya menegaskan kebuntuan akal manusia, namun juga menyiratkan bahwa pengetahuan dan segala upaya manusia tidak mampu mencapai hakikat Tuhan. Yang kedua, lebih radikal, dengan menegaskan ketika manusia membicarakan Tuhan, maka harus diam dan tidak boleh berkata apa-apa. Hal ini berlaku pada ajaran teologi negatif Yahudi, bahwa nama Tuhan tertinggi YAHWEH, terlarang untuk diucapkan. Oleh karena itu, umat Yahudi akan tertunduk diam ketika menyebut nama itu, dan menuliskannya menjadi YHWH, dengan menghilangkan huruf vokalnya. 

Wahdat al-wujud 

Dalam spektrum pemikiran ibn ‘Arabi, konsepsi wahdat al-wujud merupakan salah satu pemikiran penting yang berpengaruh pada khazanah teologi Islam dan agama-agama. Ibn ‘Arabi menegaskan pendirian teoretisnya, bahwa pertama-tama, al-wujud adalah “realitas ketuhanan” itu sendiri. Dalam pertanyaan di atas, ia telah menyatakan: Ma fi al-wujud, siwahu (tidak ada dalam al-wujud selain Dia/Allah).   

Wahdat al-wujud pada dasarnya berintikan pandangan bahwa al-wujud pertama-tama adalah tunggal, satu atau esa. Bahwa al-wujud itu tunggal, dalam artian tidak ada al-wujud yang dapat disebut al-wujud kecuali Allah itu sendiri. Al-wujud adalah satu, dalam artian bahwa hanya Allah itu sendiri, dan bukan lain-Nya dalam konteks ini, yang adalah al-wujud itu sendiri. Dan al-wujud itu esa, dalam pengertian bahwa ia tidak terduakan, singular pada pada dirinya. Oleh karena itu, wahdat al-wujud berkorelasi, bahkan bisa dikatakan identik secara filosofis, dengan ajaran tauhid itu sendiri, yaitu keimanan bahwa Allah adalah esa, tidak memiliki sekutu, dan tidak ada dua bagi-Nya. (hal. 158-163).

Konsepsi wahdat al-wujud sangat terkait dengan fondasi teologi negatif ibn ‘Arabi. Jika Allah adalah satu, tunggal dan esa, maka Ia tidak dapat dipersekutukan, dan tak terjangkau karena keterbatasan pengetahuan dan indera manusia. Sebagai kemungkinan lain dalam ketidakmungkinan-ketidakmungkinan ini, terdapat suatu jalan bagi teologi negatif, yang disiratkan oleh Ibn ‘Arabi, dalam catatan al-Fayyadl (hal. 200), yaitu “mengetahui Tuhan dengan jalan tidak mengetahui-Nya, atau mengetahui Tuhan dengan jalan mengetahui ketidakmungkinan-Nya diketahui”. 

Peresensi adalah santri di pesantren al-Munawwir dan Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta, 

Komentar

Artikel Terkait

Selasa, , 20 Agustus 2019 - 08:00 WIB

Tahun Depan PNS Tidak Naik Gaji

Telah dilihat : 119 kali

Wawancara yang Aneh - Pak Leman Eps #3

Telah dilihat : 133 kali

Kambing Naik Alphard