Jakarta Terlalu Banyak Adakan Fashion Week?

Jakarta fashion week

itoday - Pekan Mode tanah air akan selalu ada di beberapa bulan tertentu dalam setahun. Bahkan, kerap kali satu jenis pekan mode berbarengan dengan pekan mode lainnya atau dalam waktu yang berdekatan.

Di Jakarta sendiri, pekan mode menjadi salah satu ajang paling ditunggu pencinta fashion. Tidak hanya sebatas eksistensi diri, tetapi mengenal perkembangan dari fashion itu sendiri dan juga ajang memperluas bisnis bagi pelaku mode.

Menjamurnya pekan mode disadari Ketua Dewan Pengurus Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) Sjamsidar Isa. Menurut dia, khusus di Jakarta, yang namanya pekan mode atau yang biasa disebut 'fashion week' itu terlalu menjamur. Banyak sekali.

"Di Jakarta terlalu banyak fashion week," ucapnya pada rekan media di acara Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2019 di Hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Perempuan yang biasa disapa Tjammy itu melanjutkan, inti dari fashion week yang kerap dihelat itu kebanyakan jualan. Sementara itu, ajang fashion show-nya dijadikan sebagai alat untuk memperkenalkan koleksinya pada publik.

Tapi, sangat disayangkan, beberapa pihak penyelenggara fashion week tidak paham makna dan konsep fashion itu sendiri. Hal ini yang kemudian membuat para desainer kurang bisa bergeliat di pasar tanah air. Pasalnya, semua mengaku desainer!

"Kami selalu mendorong pihak penyelenggara fashion week untuk mempertegas apa tujuan mereka menggelar fashion week dan bagaimana dampaknya bagi desainer. Di JFFF akhirnya menampilkan sesuatu yang berbeda, di mana desainer diberi ruang untuk mempromosikan produknya langsung ke masyarakat," papar Tjammy.

Dia juga berharap untuk penyelenggara fashion week untuk meningkatkan 'trading'. Hal ini berkaitan dengan efek bisnis yang akan dirasakan si desainer setelah mereka ikut andil dalam fashion show di pekan mode.

Peran digital di era sekarang pun disadari desainer dan pihak penyelenggara fashion week. Itu bisa dilihat dari beberapa desainer bekerja sama dengan e-commerce untuk menjual koleksinya. Bahkan, beberapa fashion show sudah menerapkan 'see now buy now' yang memungkinkan tamu fashion show bisa langsung membeli koleksi yang baru saja tampil di runway.

Upaya melek digital ini, diakui Tjammy harus diterapkan pada desainer tanah air. Pasalnya, para desainer tidak bisa menolak untuk melawan digitalisasi pasar ini. Meski demikian, dia tak menampik masih banyak desainer lebih menyukai koleksi pasca-show.

"Akan terjadi memang pola semacam itu, hanya tetap beberapa teman-teman desainer masih nyaman dengan pola penjualan koleksi setelah fashion week berlangsung," ungkapnya.

Tjammy menambahkan, jika bicara 'see now buy now', beberapa pembeli khususnya di segmentasi kain wastra nusantara, mereka tidak begitu suka dengan belanja online. Pembeli koleksi tipe ini lebih suka menyentuh langsung koleksinya, karena setiap kain punya 'rasa' yang khas.

"Masih banyak pembeli koleksi kain wastra nusantara yang pengin 'touch' langsung koleksinya. Mereka sulit percaya dengan hanya mengandalkan foto yang disediakan di laman penjualan," sambungnya.

Tjammy menambahkan, dunia online akan terus berkembang dan tidak bisa dipungkiri akan memengaruhi dunia fashion. Tapi, menjadi catatan, setiap desainer juga mesti sadar bagaimana pasarnya, sehingga era digital ini bisa disikapi dengan dewasa. Sebab, bagaimana pun desainer dan karyanya punya pasarnya sendiri.

 

Sumber berita : okezone  /  Sumber foto : genpi.co

Komentar

Artikel Terkait