70 Persen Kecelakaan di Tol Disebabkan oleh Truk

itoday - Dengan populasi ponduduk lebih dari 10 juta jiwa Jakarta menjadi kota dengan lalu lintas sibuk dan padat akibat jumlah kepemilikan kendaraan pribadi dan niaga yang terus bertambah. Hal ini menimbulkan kerawanan kecelakaan lalu lintas, khususnya yang melibatkan truk.

Peristiwa kecelakaan yang melibatkan kendaraan niaga tidak terlepas dari pemahaman mengemudi dan managemen pengelolaan resiko kecelakaan yang rendah dari para sopir truk.

Perihatin dengan kondisi ini Mercedes-Benz bersama TruckMagz menggelar TruckMagz School ‘Safety First, Efficiency Follow’ bagi pengemudi truk di Jakarta. Kegiatan ini turut didukung oleh Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo)

“Jakarta tengah mengalami pertumbuhan infrastruktur yang sangat pesat sehingga menyebabkan tingginya volume truk di jalan raya. Oleh sebab itu, keselamatan mengemudi sudah seharusnya lebih ditekankan,” ujar Arizta Quintasari, Communication & Marketing Manager Commercial Vehicle Indonesia PT Daimler Commercial Vehicle Indonesia (DCVI),

Roadshow Safety First, Efficiency Follow ini bertujuan mengedukasi para pengemudi serta pemilik perusahaan tentang keselamatan dan efisiensi dalam berkendara. Para pengemudi diberikan materi berkendara defensive, terdiri dari pelatihan yang dilanjutkan dengan ujian tertulis dan praktik.

“Di pelatihan ini kita juga dorong perusahaan-perusahaan yang menaungi mereka untuk lebih berperan aktif meningkatkan kompetensi sopir-sopir truk mereka,” kata Ratna Hidayati pelaksana Roadshow ‘Safety First, Efficiency Follow’ bagi para sopir truk.

Rendahnya kompetensi sopir truk di Indonesia menjadi salah satu faktor seringnya kecelakaan yang melibatkan truk. Menurut laporan Jasa Marga sebagaimana dikutip Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), 70% kecelakaan di jalan tol disebabkan oleh truk.

Padahal secara populasi jumlah truk hanya 12% dari total jenis kendaraan yang melewati jalan bebas hambatan. Namun justru truk menjadi penyebab terbesar terjadinya insiden lalu lintas di tol.

Berdasarkan Roadshow ‘Safety First, Efficiency Follow’ yang diselenggarakan oleh Truck Magz di sejumlah kota, kemampuan mengemudi sopir truk dan pemahaman mengelola potensi kecelakaan masih rendah. Hal ini tidak terlepas dari minimnya pelatihan dan tingkat pendidikan para sopir truk yang sebagian besar hanya tamatan SMP.

“Rata-rata, mayoritas sopir truk itu awalnya dari kenek, lalu jadi pengemudi truk. Kalau sopirnya capek atau minta digantiin, akhirnya kenek ini yang nyopiri. Lama-lama dia jadi pengemudinya. Ini sudah turun termurun. Makanya mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus. Karena itu pelatikan ini sangat penting, terutama untuk meningkatkan defensive driving skill dan driving awareness para sopir truk,” tandas Kyatmaja Lookman, Wakil Ketua Bidang Logistik DPP Aptrindo.

 

Sumber: Otosia

Komentar

Artikel Terkait

Telah dilihat : 3157 kali

sahabat total episode 3

Telah dilihat : 3357 kali

sahabat total episode 2