Palestina: Trump Deklarasikan Perang Lawan 1,5 Miliar Muslim Dunia

itoday - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel memicu kemarahan masyarakat internasional, terutama Palestina. Pemerintah Palestina melalui perwakilannya di Inggris menganggap tindakan Trump sama halnya deklarasi perang terhadap 1,5 miliar umat Muslim dunia.

Tindakan Trump juga dikhawatirkan akan memantik perang agama di Timur Tengah. Keputusan itu sekaligus menghancurkan proses perdamaian Israel dan Palestina melalui soslusi dua negara.

”Jika dia mengatakan apa yang ingin dia katakan tentang Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, itu berarti sebuah ciuman kematian terhadap solusi dua negara,” kata Kepala Perwakilan Palestina untuk Inggris, Manuel Hassassian, kepada program Radio 4's Today.

”Dia sedang mendeklarasikan perang di Timur Tengah, dia sedang mengumumkan perang melawan 1,5 miliar Muslim dan ratusan juta orang Kristen yang tidak akan menerima tempat suci berada di bawah hegemoni Israel,” lanjut Hassassian yang dikutip Kamis (7/12/2017).

Tapi, Hassassian menjelaskan bahwa perang yang dimaksud bukanlah mengacu pada konflik militer. “Saya tidak bermaksud perang dalam hal perang konvensional, maksud saya perang dalam hal diplomasi,” ujarnya.

Meski demikian, diplomat AS Richard Haass telah memperingatkan bahwa tindakan Trump dapat meningkatkan ketegangan dan membuka jalan menuju kekerasan di Timur Tengah.

”Risikonya adalah bahwa hal itu akan meningkatkan ketegangan dan menyebabkan kekerasan pada saat di mana ada lebih banyak ketegangan dan kekerasan terjadi di dunia,” tulis dia di Twitter.

“Benar, menahan pengakuan AS atas Yerusalem untuk Ibu Kota Israel tidak menghasilkan perdamaian. Kurangnya kemajuan dapat dihubungkan dengan perilaku Israel dan Palestina,” ujarnya.

”Tapi sama jelasnya adalah bahwa mengubah kebijakan AS terhadap Yerusalem sekarang mungkin akan membuat situasi menjadi jauh lebih buruk,” imbuh dia.

Gedung Putih telah membenarkan keputusan Trump. Menurut Gedung Putih Yerusalem telah lama menjadi pusat pemerintahan Israel.

Masyarakat internasional tidak mengakui kedaulatan Israel atas seluruh kota tua dan kota suci bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi tersebut.

Perdana Menteri Turki Binary Yildirim memperingatkan bahwa Trump berisiko membuat masalah di Timur Tengah menjadi tak terpecahkan.

Pemimpin Vatikan Paus Fransiskus telah bergabung dalam kelompok yang menentang keputusan Trump. “Sangat penting untuk mengenali hak semua orang dan mempertahankan status quo (Yerusalem),” kata Paus.

Setelah perang Enam Hari tahun 1967, Israel mengumumkan Yerusalem sebagai ibukotanya, meskipun klaim tersebut ditolak oleh Palestina dan masyarakat internasional. Palestina sendiri kini menyatakan bahwa Yerusalem sebagai ibu kota abadinya.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Artikel Terkait

Selasa, , 12 Desember 2017 - 15:13 WIB

MUI akan Pimpin Aksi Terbesar untuk Palestina 17 Desember

Selasa, , 12 Desember 2017 - 11:41 WIB

Putin dan Erdogan: Langkah AS Membuat Kacau Timur Tengah

Selasa, , 12 Desember 2017 - 10:59 WIB

Giliran Google Maps Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Telah dilihat : 1885 kali

sahabat total episode 2

Telah dilihat : 1861 kali

sahabat total episode 1