Jumhur Hidayat: Ingat, Satu Indonesia untuk Semua Daerah, Bukan untuk Asing!

itoday - Jelang Pemilihan Gubernur Provinsi Jawa Barat (Pilgub Jabar) 27 Juni 2018, tak hanya marak dengan manuver para kandidat, tapi juga digelar berbagai panggung kerakyatan bernuansa etnik Sunda, guna menyatukan suara memilih pemimpin baru Jabar. 

Salah satunya, sore tadi dideklarasikan Gerakan Pilihan Sunda (Gerpis), sekaligus memperingati Konferensi Meja Bundar (KMB) ke-68. Bertempat di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Jalan Dipati Ukur Nomor 48, Bandung, tampak hadir beberapa tokoh, antara lain Mohammad Jumhur Hidayat, Tjetje Hidayat Padmadinata, Iwan Sulandjana, Tatang Zaenudin, Mulyadi, Dindin Maolani, Prof. Karim Suryadi, Andri P. Kartaprawira, KH. Ayi Hambali, serta berbagai elemen lintas sektoral lintas generasi. 

"Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatu, sampurasun. Dalam konstitusi UUD 1945, ada kata-kata 'Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.' Saya melihat Indonesia merdeka tidak sama dengan negara-negara lain. Ada intervensi spiritual, yang hal tidak mungkin jadi mungkin," 

ujar Jumhur Hidayat membuka pidato sambutan, Rabu (27/12/2017).

Dia menerangkan, Simon Bolivar tokoh di Amerika Latin, berjuang untuk kemerdekaan satu benua, tapi begitu merdeka menjadi puluhan negara, padahal sama-sama dijajah Portugis dan Spanyol. 

Demikian pula tetangga Indonesia, yakni Malaysia, Brunei dan Singapura, dijajah Inggris tapi merdeka sendiri-sendiri. Juga di Bangladesh, India, Pakistan hingga Afrika dan belahan dunia lainnya, yang merupakan satu daratan tapi merdeka sendiri-sendiri.

"Indonesia negara terpisah-pisah dari banyak kerajaan yang berdaulat secara kekuasaan, tapi ketika Bung Karno umumkan kemerdekaan, pada bergabung dengan negara proklamasi. Kalau waktu itu Sultan Ternate tak mau bergabung dengan NKRI apa Bung Karno bisa kirim mitraliur dan tentara ke sana? Tidak bisa. Kalau Mataram, Aceh, Pontianak, Dayak dan sebagainya sendiri-sendiri, apa bisa merdeka? Tapi tiba-tiba bergabung menjadi Indonesia. Ini keajaiban, ada hasrat untuk bersatu," tegas tokoh buruh tersebut.

Jumhur merasa prihatin atas situasi kekinian yang semakin jauh dengan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan. Dia mengatakan bahwa dulu ada semboyan "Semua untuk satu, satu untuk semua," yang diwujudkan dalam semua kekuasaan daerah lokal untuk satu Indonesia hingga NKRI berdiri. Seharusnya setelah Indonesia berdiri, diabdikan untuk semua warganya. 

"Sekarang apakah iya satu Indonesia untuk semua orang hingga ke daerah-daerah? Faktanya yang terus berkembang dari pemerintahan ke pemerintahan sampai hari ini, semua untuk satu Indonesia iya, tapi setelah menjadi satu, yang terjadi satu untuk Inggris, satu untuk Amerika, satu untuk China, satu untuk negara-negara asing, bukan satu Indonesia untuk memperjuangkan kedaulatan masyarakat!" kecamnya lantang yang disambut hadirin dengan gegap gempita.

Mantan narapidana politik di Nusakambangan itu menyambut baik Gerakan Pilihan Sunda (Gerpis), karena memperjuangkan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) bukan sesuatu yang haram, tetapi mulia. Dia menyerukan bahwa yang tak boleh dan berkhianat kepada kemanusiaan adalah menindas SARA. 

Orang Sunda yang merasa terpinggirkan dihancurkan kebudayaannya dan ingin bangkit kembali, imbuhnya, adalah sangat diperbolehkan, tapi tak diperkenankan menindas orang Jawa, Tionghoa serta etnik lainnya yang hidup di Tanah Pasundan. 

"Jadi sekali lagi, jangan kita mau ditakut-takuti kalau berbicara soal etnik. Jangan bicara memajukan etnik grup dinyatakan sebagai gerakan SARA. Yang begitu setolol-tololnya orang dalam sejarah. Apalagi kita tahu terlalu banyak intervensi tidak bermutu saat ini," pungkas Jumhur Hidayat.

Acara disemarakkan dengan kehadiran berbagai ormas seperti FKPPI, Pemuda Pancasila, KPJB, Manggala Garuda Putih, Paguyuban Emas Prabowo Subianto, Jaguar 08, Paguron Silat Kabuhun Kabuyutan Geger Kalong, Wirayudha Karaton Sumedang Larang, Gerakan Hejo, juga para budayawan dan seniman Sunda yang turut menggelar berbagai kesenian dan kebudayaan khas Jawa Barat.

 

Red

Komentar

Artikel Terkait

Telah dilihat : 90 kali

Euforia Persija Jakarta Juara Part 2

Telah dilihat : 103 kali

Euforia Persija Jakarta Juara

Telah dilihat : 1612 kali

Video klip #2019GantiPresiden