‘Shalat Subuh Berjamaah’ Dituding Politis, Pemikir Islam: Ini Bentuk Ketakutan Penguasa!

itoday - Tudingan yang menyebut gerakan “sholat subuh berjamaah” sebagai upaya politisasi jelang Pilkada 2018, justru mengarah pada upaya memperburuk citra Islam.

Penegasan itu disampaikan pemikir Islam Muhammad Ibnu Masduki (28/02). "Gerakan subuh berjamaah itu baik dan tidak perlu dikaitkan dengan isu politisasi. Kalau ‘pihak sebelah’ menuding politisasi, buat juga gerakan subuh berjamaah," tegas Ibnu Masduki.

Menurut Ibnu Masduki, gerakan subuh berjamaah justru menguatkan bangsa Indonesia dari keterpurukan. "Indonesia makin bagus dengan adanya gerakan subuh berjamaah," papar Ibnu Masduki. 

Ibnu Masduki menilai, tudingan politisasi shalat subuh berjamaah juga terkait dengan kekhawatiran penguasa menghadapi persaingan Pilkada 2018. "Walaupun penguasa tidak mengungkapkan, tetapi melalui kelompok yang saat ini dekat dengan penguasa," beber Ibnu Masduki. 

Tak hanya itu, Ibnu Masduki mengungkapkan, pendukung penguasa yang justru melakukan politisasi agama dengan menyebarkan foto shalat berjamaah. "Tidak perlu asal menuduh biar rakyat yang menilai sendiri terlebih mendekati Pemilu dan Pilpres," pungkas Ibnu Masduki. 

Sebelumnya, Ketua Forum Silaturahmi Bangsa (FSB) Jawa Barat, Muhidin, mengatakan ada gerakan salat subuh berjamaah yang selanjutnya diisi ceramah keagamaan dengan materi berisi ujaran kebencian demi mendukung salah satu kandidat.

"Kami menolak politik praktis masuk masjid dengan bungkus apa pun. Misalnya salat subuh berjemaah, tapi ujung-ujung dipakai untuk mengajak pilih si A atau si B," kata Muhidin dalam pengajian kebangsaan bertema ‘Fungsi Masjid Sesuai Syariat Islam” di Masjid Sabilus Salam, Bandung (26/2).

Komentar

Artikel Terkait