5 Poin Penting Kesaksian Zuckerberg di Depan Kongres AS

itoday - CEO Facebook, Mark Zuckerberg, bersaksi dalam persidangan terkait skandal kebocoran data Cambridge Analytica, Rabu, 11 April 2018. Seperti dilansir Reuters, selama 2 hari berturut-turut, pemegang saham utama Facebook itu dicecar puluhan pertanyaan dari Senat dan DPR Amerika Serikat.

Berikut hal penting yang perlu diketahui terkait kesaksian itu:

1. Apa sebenarnya Facebook itu?

Apakah Facebook sebuah perusahaan teknologi atau perusahaan media? Pertanyaan dari Greg Walden (Partai Republik) ini dinilai sangat penting bagi para anggota parlemen untuk memutuskan cara mengatur firma media sosial.

CEO Mark Zuckerberg bersikeras Facebook adalah perusahaan teknologi karena fokusnya adalah pada perekrutan insinyur untuk membangun alat seperti perangkat lunak. Tapi, dia mengakui perusahaannya juga harus lebih bertanggung jawab atas konten para pengguna.

Jadi menurutnya jika ada yang bertanya apakah Facebook adalah perusahaan media, maka bisa juga dikatakan demikian.

2. Perlindungan Data

Saat diserang oleh anggota Kongres AS soal perlindungan data para pengguna Facebook, yang jumlahnya sekitar 2,2 miliar pengguna aktif per bulan. Zuckerberg mengatakan peraturan privasi pelanggan merupakan fokus utamanya. Dia tidak menampik adanya kebocoran data yang kemudian diperjualkan pihak ketiga.

Zuckerberg bahkan mengaku data pribadinya juga diperjual belikan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Senator Demokrat, John Kennedy menyebut perjanjian pengguna Facebook buruk karena tidak membantu pengguna soal hak-hak mereka.

Untuk itu Zuckerberg berjanji terus melakukan perubahan untuk mengurangi jumlah pencurian data.

3. Monopoli Media Sosial

Salah satu kritik kepada Facebook oleh Kongres AS adalah memonopoli media sosial, yang dapat membuka pintu bagi penyelidikan anti-trust yang potensial. Dalam pandangan Zuckerberg, Facebook bersaing secara agresif untuk mendapatkan perhatian pengguna secara online. Untuk itu dia tidak merasa memonopoli media sosial.

4. Sensor

Seorang politikus Partai Republik, Joe Barton, menuduh Zuckerberg menekan pandangan konservatif dan agama di Facebook. Ini merujuk kepada kasus tokoh media sosial, Diamond and Silk. Dua pendukung Donald Trump keturunan Afrika-Amerika mengatakan Facebook membatasi lalu lintas ke konten mereka pada tahun lalu setelah menganggapnya "tidak aman bagi masyarakat."

Zuckerberg mengakui kesalahan itu dan mengaku telah mengembalikan akun kedua orang itu.

"Anggota Kongres, dalam kasus khusus itu, tim kami melakukan kesalahan penegakan hukum. Dan kami sudah menghubungi mereka untuk mengembalikannya," kata Zuckerberg.

5. Pemilihan Presiden AS

Facebook juga telah terperangkap dalam penyelidikan penasihat khusus Robert Mueller tentang kemungkinan terjadinya kolusi Rusia dengan tim kampanye Trump selama pemilihan Presiden 2016.

Zuckerberg mengatakan perusahaannya telah menerima panggilan dari jaksa, dan menyatakan bersedia bekerja sama dengan penyelidikan.

Namun terkait proses penyelidikan Zuckerberg tidak mengungkapkannya ke Kongres karena sifatnya rahasia.

Zuckerberg memberikan kesaksian secara terbuka pada Selasa dan Rabu di depan dua komisi Kongres terkait kebocoran data Facebook.

Skandal Cambridge Analytica, yang melibatkan layanan Facebook, disebut telah menggunakan data 87 juta pengguna jejaring sosial itu termasuk satu juta data pengguna Indonesia.

Zuckerberg menyesali keamanan jejaring sosial buatannya yang kebobolan dan membuat data para penggunanya disalahgunakan tanpa izin. Atas kelalaiannya itu, Zuckerberg meminta maaf kepada Kongres Amerika Serikat.

 

Komentar

Artikel Terkait

Minggu, , 10 Juni 2018 - 00:25 WIB

Tak Mau Kalah, Facebook Luncurkan Pesaing Musical.ly

Jumat, , 08 Juni 2018 - 01:05 WIB

Apple: Kami Tak Pernah Akses Data Facebook