Pengamat: PKS dan HTI Disudutkan Terkait Rangkaian Teror Bom di Surabaya

itoday - Aktivis Progres 98 Faizal Assegaf terus mengaitkan rangkaian teror bom di Surabaya dengan dukungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Faizal Assegaf di akun Twittter @faizalassegaf terus mengarahkan tudingan ke PKS. “Keterlibatan kader PKS dengan jaringan ISIS di Jawa Timur terungkap jauh sebelum terjadinya rangkaian aksi bom di Surabaya dan sekitarnya. Seluruh elemen rakyat jangan terkecoh dengan aneka modus nyinyiran para loyalis PKS di medsos, yang gencar berupaya menyudutkan Polri dan pemerintah,” tulis @faizalassegaf.

Bahkan, Faizal Assegaf menyatakan persenyawaan kejahatan teroris dengan radikalisme PKS bukan kebetulan. “Persenyawaan kejahatan teroris dengan radikalisme PKS bukan kebetulan: Tepat 11 Mei 2011 Presiden PKS secara terbuka ajak kadernya puji gembong teroris Osama Bin Laden. Kini di bulan Mei 2018, doktrin sesat teroris tersebut terwujud dengan aneka teror paling keji. #BersatuLawanTeroris *FA*,” tulis @faizalassegaf.

Pengamat politik Ahmad Baidhowi (14/05) menyatakan, pasca bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya membuat PKS dan HTI tersudutkan. Apalagi, seperti dirilis kepolisian, foto pelaku perempuan mengenakan jilbab bukan cadar. Berkembang di sosial media bahwa model jilbab yang dikenakan terduga pelaku jilbab ala PKS dan HTI.

"Polisi memperlihatkan pelaku bom bunuh diri satu keluarga di mana istrinya mengenakan jilbab, tidak bercadar. Opini yang berkembang gaya keluarga seperti itu keluarga PKS dan HTI," kata Ahmad Baidhowi.

Menurut Ahmad Badawi, sebelum terjadinya bom bunuh diri di Singapura, buzzer penguasa di sosial media  mem-framing kejadian Mako Brimob terkait HTI. 

"Buzzer pendukung penguasa membuat tagar #MakoBrimobRusuh, #HTIDibubarkan, ada juga mengaitkan petinggi PKS yang tidak mengecam peristiwa rusuh Mako Brimob," jelas Baidhowi.

Baidhowi pun menyimpulkan bahwa bom bunuh diri di Surabaya telah dipolitisasi para buzzer untuk menyudutkan PKS maupun pihak oposisi. 

"Tujuannya, jika PKS sudah diopinikan sebagai bagian dari kelompok teror, maka suaranya akan turun. Selanjutnya, orang semakin takut menyuarakan 2019 Ganti Presiden, karena yang menyuarakan politikus PKS," papar Baidhowi. 

Selain itu, kata Baidhowi, pasca tersebarnya informasi dan foto satu keluarga pelaku bom bunuh diri, citra perempuan “berjilbab besar” semakin buruk. "Cadar sudah diidentikan teroris, sekarang jilbab ala PKS dan HTI dianggap teroris juga," pungkas Baidhowi. 

Red

Komentar

Artikel Terkait