Pengamat: Ada Upaya Jahat yang Opinikan Muhammadiyah Dukung Ideologi Radikal

itoday - Pasca kerusuhan di Rutan Mako Brimob dan serangkaian teror bom di Surabaya, Muhammadiyah, terus disudutkan. Muhammadiyah dituding pro dengan ideologi radikal.

Pendapat itu disampaikan pengamat politik Ahmad Baidhowi  (15/05). “Ada upaya generalisasi yang menuding Muhammadiyah mengajarkan ideologi radikal. Secara keagaamaan Muhammadiyah dikait-kaitkan dengan Wahabi, dan ini akan terus diopinikan," jelas Baidhowi.

Baidhowi menyebut sejumlah “peluru” yang digunakan untuk membidik Muhammadiyah. Yakni, sikap kritis mantan Ketum Muhammadiyah Amien Rais kepada Pemerintahan Joko Widodo dan pernyataan Ketum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, yang mengaitkan rusuh di Rutan Mako Brimob dengan keberadaan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Telah dimunculkan streotipe bahwa Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari Amien Rais yang sangat kritis terhadap penguasa. Walaupun Amien Rais sudah tidak Pengurus Pusat Muhammadiyah, tetapi masih menjadi tokoh di kalangan Muhammadiyah," papar Baidhowi.

“Peluru” lainnya adalah ditemukannya kartu tanda anggota (KTA) Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kabupaten Kendal atas nama Dita Siska Millenia (DSM). DSM merupakan satu dari dua perempuan remaja yang ditangkap aparat kepolisian dengan dugaan mencoba menyerang polisi di Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) Kelapa Dua, Depok (12/05).

"Wanita yang mau nusuk polisi itu ditemukan kartu IPM, bahkan anak bom bunuh diri di Surabaya juga dikabarkan anggota IPM," kata Ahmad Baidhowi.

Padahal, kata Baidhowi, pihak kepolisian tidak menyebarkan secara resmi adanya kartu IPM atas nama DSM itu. "Foto kartu IPM itu justru disebarkan oleh akun sosial media yang dikenal sebagai buzzer pendukung penguasa," tegas Baidhowi.

Sebelumnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) IPM, Velandani Prakoso, menegaskan kader-kader IPM yang sejati, tidak pernah diajarkan untuk melakukan kekerasan atau tindakan-tindakan yang membahayakan orang lain. 

Velandani juga menegaskan bahwa status KTA DSM tersebut sudah tidak berlaku. “Keanggotaan sudah otomatis tidak berlaku dan status yang bersangkutan adalah alumni dari sekolah Muhammadiyah,” kata Andan seperti dikutip ipm.or.id (13/05). 

Hal ini dibenarkan Ketua Umum Pimpinan Wilayah (PW) IPM Jawa Tengah Achmad Basyirudin. “Dita Siska Millenia memang pernah menempuh pendidikan di salah satu sekolah Muhammadiyah Kendal, namun tidak menjadi pengurus IPM aktif,” kata Basyirudin.

Red

Komentar

Artikel Terkait