BNPT Sebut Munculnya Teroris Akibat Solidaritas Palestina, Pengamat: PKS Dibidik?

itoday - Menyebut solidaritas kepada Palestina sebagai penyebab munculnya terorisme, patut diduga arahnya membidik Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Pendapat itu disampaikan pengamat politik Muhammad Huda (04/06) menyikapi pernyataan  Direktur Pencegahan BNPT Brigjen (Pol) Hamli yang menyebut solidaritas komunal, Palestina, sebagai penyebab terorisme.

"Selama ini yang paling kencang menyuarakan pembelaan Palestina itu PKS. Di sisi lain, di saat yang bersamaan ada suara menuntut pembubaran PKS dengan tuduhan partai radikal," tegas Muhammad Huda.

Huda menilai, ada semacam korelasi antara pernyataan BNPT dengan suara pembubaran PKS. "Sepertinya orang-orang yang mendukung Palestina dibuat takut karena dianggap bagian dari terorisme," jelas Huda. 

Menurut Huda, narasi mengaitkan terorisme dengan dukungan pada Palestina akan berkembang  untuk mendegradasi gerakan pembebasan Palestina di Indonesia. "Padahal perjuangan Palestina itu bukan teroris. Israel justru teroris sebenarnya. Nampaknya pandangan BNPT mengenai teroris berkiblat ke Amerika Serikat (AS)," kata Huda. 

Kata Huda, menuding pembela Palestina penyebab munculnya terorisme sangat berbahaya bagi umat Islam di Indonesia. "Masjid Aqsha di Palestina merupakan salah satu tempat suci yang disebutkan dalam Al Quran, dan saat ini dalam pengawasan Israel. Kadang-kadang warga Palestina dilarang shalat di Masjidil Al Aqsha," jelas Huda.  

Sebelumnya, BNPT menyebut solidaritas terhadap Palestina sebagai salah satu penyebab adanya yang disebut “teroris”.

“Penyebab teroris adalah ideologi, paham yang salah, solidaritas komunal karena melihat saudaranya didzalimi seperti Palestina, Rohingya, Maluku Ambon,” ujar Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Hamli dalam diskusi Pemberitaan dan Penyiaran Tentang Terorisme di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (30/05/2018).

Menurut Hamli, penyebab lainnya adalah sikap balas dendam keluarga yang menjadi korban. Juga, aksi balas dendam akibat kekejaman yang dialami oleh suatu kelompok, seperti pembantaian yang dialami etnis Rohingya.

“Apakah kita akan menyiarkan besar-besaran konflik di sana? Karena motivasi balas dendam sering muncul,” kata Hamli.

Red

Komentar

Artikel Terkait