Indra Piliang: Korban KM Sinar Bangun ikut 'Memilih', Mengapa Dibiarkan jadi Arwah Penasaran?

itoday - Rencana penghentian pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, disesalkan banyak pihak. Bahkan aktivis perempuan Ratna Sarumpaet memprotes keras Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan saat mengunjungi keluarga korban.

Pengamat politik yang juga politisi Golkar Indra J Piliang mendesak pencarian korban dilanjutkan. “Mau bertarung apa di 2/3 maritim, sementara di satu danau saja pemerintah mundur. Sebanyak kurang lebih  160 jasad itu pernah acungkan jempolnya untyk milih, bukan? Pun keluarganya. Kenapa mereka dibiarkan jadi hantu dan arwah penasaran? #KMSB #LanjutkanPencarian,” tegas Indra di akun Twitter 

@IndraJPiliang.

Menurut Indra, jika pemerintah Joko Widodo tidak mampu mengangkat jasad penumpang KM Sinar Bangun, minta bantuan lembaga internasional.

“Teruskan pencarian bangkai kapal motor Sinar Bangun & terutama seluruh jasad penumpangnya! Kalau Pemerintah RI ndak mampu, minta bantuan lembaga internasional! Jangan biasakan pelihara tahayul-tahayul baru! #InstruksiKombatanGerilyawan,” tulis @IndraJPiliang.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah turut mengkritik rencana penghentian pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba. 

"Pemerintah baru beberapa hari ini, beberapa minggu ini, berhenti. Masak sih Republik Indonesia katanya negara bahari, negara maritim, mengalah dengan Danau Toba? Kalau dengan Danau Toba dia mengalah, kebanggaan maritimnya mana?" kata Fahri seperti dikutip detik (03/07).

"Katanya jago di air, masak kita nggak bisa sewa kapal selam kecil masuk ke dalam itu? Angkatan laut kita punya, jagoan-jagoan kita punya, (kok) berhenti. Baru sebentar," sesal Fahri. 

Fahri tak setuju dengan rencana penghentian pencarian korban tragedi Danau Toba. Dia menyesalkan bila ternyata kebijakan itu diambil karena masalah dana.

"Ongkosnya berapa sih dikeluarin? Bikin Asian Games triliunan kita keluar untuk orang lain nonton. Bikin itu ultah IMF, World Bank di Bali triliunan juga kita habis. Ini 160 rakyat hilang, kita berhenti, coba bayangkan. Menurut saya ini keterluan, nggak ngerti sense of crisis," kritik Fahri.

Komentar

Artikel Terkait