NSEAS: Survei LSI Denny JA Palsu! “Jeruk Makan Jeruk”, Kiai Ma’ruf tak Dongkrak Elektabilitas Jokowi

itoday - Survei Lingkaran Survei Indikator (LSI) Denny JA yang dirilis pada Selasa (21/08), mengunggulkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Jokowi-Ma'ruf dipilih 52,2 persen responden. Sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dipilih 29,5 Persen responden. Sementara responden yang tidak menjawab mencapai 18,3 persen.

Peneliti senior dari Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap mengkritisi survei LSI Denny JA tersebut. Muchtar bahkan menyebut survei itu tidak masuk akal dan sangat mungkin berbohong secara metodologis.

“Hasil survei  LSI Denny JA ini tak masuk akal alias palsu dan  sangat mungkin berbohong secara metodologis karena dalam waktu satu minggu pasti tidak cukup waktu   memenuhi syarat metodologis untuk survei opini publik atau polling nasional,” tegas Muchtar (23/08).

Menurut Muchtar, dilihat dari kronologis survei, waktu pengumpulan data sejak deklarasi Capres-Cawapres hanya 7-8 hari atau sekitar seminggu. Secara metodologis, masih ada kegiatan kompilasi data dan analisis data. Jika survei benar, masih dibutuhkan sekian hari untuk  survei 20 % terhadap responden terpilih untuk cheking kebenaran kerja Tim Surveyor di lapangan.  

“Seminggu  pasti tidak cukup waktu   memenuhi syarat metodologis untuk survei opini publik atau polling nasional. Jadi, Mustahil! Kecuali dikerjakan hanya di kamar komputer sendirian, alias fiksi,” tegas Muchtar.

Soal rentang waktu, Muchtar menegaskan LSI Denny JA mengaku melakukan survei pada akhir Agustus. Padahal saat ini baru tanggal 23 Agustus.

Keanehan lainnya, kata Muchtar, dibandingkan dengan lembaga survei lainnya, hasil survei LSI Denny JA tidak lazim. “Pada Mei 2018 LSI ini klaim telah survei dengan hasil elektabilitas Jokowi  46 %. Lalu, Juli 2018 klaim  buat lagi survei: elektabilitas Jokowi naik lagi menjadi 49,30 %. Kini 20 Agustus umumkan  naik lagi menjadi 52,2 %.  Sangat unik dan tak lazim karena kebanyakan lembaga survei klaim, selama 2018 elektabilitas Joko terus menurun hingga di bawah 40 %,” beber Muchtar.

Muchtar mengingatkan, hanya dua lembaga survei yang mengklaim elektabilitas Jokowi meningkat dan di atas 45%, yakni LSI Denny JA dan Litbang Kompas. Hasil survei Litbang Kompas elektabilitas Jokowi naik,  dari 42,5 % (April 2015) ke 55,9 % ( April 2018).

“Hanya dua lembaga itu berani klaim, elektabilitas Jokowi meningkat.  Tiba-tiba kini  elektabilitas Jokowi sudah 52,2 % versi LSI. Artinya, ada kontribusi Ma'ruf Amin selaku Cawapres Jokowi sekitar 2 %. Padahal pengaruh Ma'ruf terhadap kenaikan  elektabilitas Jokowi sangat kecil, jika tak boleh dinilai tidak ada karena " jeruk makan jeruk", pilih Ma'ruf jadi Cawapres Jokowi.  Hasil polling sejumlah lembaga via medsos Jokowi-Ma'ruf segera setelah deklarasi membuktikan hal itu. Lalu, darimana datang angka 52,2 % itu? Sangat mungkin dari Penulis Hasil Survei LSI itu sendiri,” pungkas Muchtar.

Red

Komentar

Artikel Terkait