Keanehan Lion Air JT610 sebelum Terjun Cepat ke Laut

itoday - Tragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT610 yang membawa 189 orang di perairan Karawang, Indonesia, membuat penasaran para analis. Salah satunya ada keanehan mengapa pilot tidak menyatakan keadaan darurat sebelum pesawat jatuh ke laut.

Menurut laporan awal, sekitar tiga menit setelah pesawat Boeing 737 Max 8 itu lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Pangkalpinang, Kapten Pilot Bhavye Suneja meminta izin petugas kontrol lalu lintas udara untuk putar balik ke bandara Soekarno-Hatta.

Sepuluh menit kemudian, pesawat itu jatuh ke perairan di lepas pantai Jawa, tepatnya di perairan Karawang.

David Soucie, analis untuk CNN yang juga mantan inspektur keselamatan untuk Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat (AS) mengatakan masih terlalu dini untuk menentukan penyebab jatuhnya pesawat Lion Air. Namun, baginya ada beberapa hal yang tampak aneh.

"Apa yang paling aneh bagi saya adalah kenyataan bahwa mereka tidak menyatakan keadaan darurat," katanya mengacu pada pilot dan kru pesawat.

"Mereka hanya berkata, 'kami akan kembali'," lanjut Soucie, merujuk pada komunikasi pilot yang menyatakan ingin kembali ke bandara Soekarno-Hatta.

"Tapi ketika saya melihat lintasan pesawat setelah itu, pesawat melakukan penerjunan yang sangat curam setelah itu yang tidak biasa dari apa yang akan mereka lakukan," katanya, Selasa (30/10/2018).

"Mereka akan mempertahankan ketinggian dan membuat belokan itu dan kembali ke sana," imbuh dia.

Konsultan penerbangan dan mantan pilot Alastair Rosenschein mengaku tidak memiliki jawaban pasti tentang apa yang menyebabkan kecelakaan itu sampai pihak berwenang Indonesia memulihkan kotak hitam pesawat.

"Hampir tidak mungkin untuk mengatakan apa yang terjadi," kata Rosenschein kepada CNN. "Pada titik ini, semacam kegagalan mekanis adalah yang paling mungkin, tapi ini murni spekulatif."

Dia mencatat bahwa sangat penting untuk menemukan kotak hitam itu dengan cepat karena pesawat nahas itu adalah model yang baru.

"Apa yang terjadi di sini mungkin dapat memengaruhi model pesawat terbang yang sama di bagian lain dunia," katanya.

Prioritas utama saat ini adalah menemukan perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan untuk membantu menentukan penyebabnya.

Greg Waldron, managing editor Flightglobal Asia, mengatakan karena pesawat jatuh di perairan dangkal, memulihkan kotak hitam semestinya lebih mudah daripada dengan kecelakaan laut dalam seperti yang dialami AirAsia QZ8501 pada tahun 2014 dan Air France 447 pada tahun 2009.

Data awal yang ditransmisikan oleh penerbangan JT610 menunjukkan pesawat nahas itu jatuh dengan kecepatan sangat tinggi, yakni jatuh dari ketinggian 1.479 meter hanya dalam 21 detik.

Pakar keselamatan penerbangan John Cox kepada Bloomberg mengatakan, penurunan normal untuk pesawat adalah sekitar 450 meter hingga 600 meter per menit.

"Hal ini benar-benar muncul tak terkendali," kata Cox, yang menjalankan perusahaan konsultan Safety Operating Systems. "Data angkanya hampir tidak bisa dipercaya."

Analisis data dari pesawat yang jatuh oleh situs web Aviation Safety menggambarkan kecepatan dan ketinggian Lion Air JT610 selama 13 menit terbang "tidak menentu".

Pesawat terpantau belok ke kiri setelah lepas landas, naik ke ketinggian 640 meter dan kemudian turun 450 meter.

Kemudian pesawat naik lagi dan terus goyah selama beberapa menit antara ketinggian 1.370 meter hingga 1.630 meter sebelum terjun fatal.

 

Sumber: Sindonews

Komentar

Artikel Terkait