Jokowi tak Komentari Pembantaian Nduga Papua, Frans “Lingua”: Kami Jenuh Berita Jalan Tol

Itoday - Presiden Joko Widodo secara khusus belum membuat pernyataan pers soal tewasnya 31 pekerja proyek Istaka Karya di Kali Yigi dan Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, pada Ahad (02/12).

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu telah menegaskan bahwa pembunuhan Nduga bukan hanya tanggungjawab Polri dan TNI, sebagai Menhan, Ryamizard juga ikut bertanggungjawab atas kejadian itu.

Personel band “Lingua”, Frans Mohede, pun ikut mempertanyakan sikap Jokowi terkait pembunuhan Nduga. “Saya yakin gerakan separatis di Papua bisa diberangus sebentar saja oleh Satgas-satgas TNI. Perlu dipertanyakan mengapa Presiden, dalam mengatasi situasi negara yang terancam keutuhannya, tidak langsung membuat pernyataan pers. Rakyat perlu tahu. Kami jenuh dengan berita jalan tol,” tegas Frans di akun Twitter @francmohede.

Selain Menhan Ryamizard, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan juga sempat mengomentari pembunuhan Nduga. 

Menurut Luhut, pembunuhan terhadap para pekerja pembangunan jembatan di Papua sebagai hal yang tidak elok. "Saya pikir inilah buktinya masih (ada) orang yang membunuhi orang yang membuat pembangunan, itu tidak elok," kata Luhut seperti dikutip republika (4/12).

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengecam pernyataan Luhut tersebut. “Pembunuhan oleh teroris separatis itu biadab. Kok cuma “tak elok”. Kamus bahasa Indonesia: elok /élok/ a 1 baik; bagus; cantik (tentang cerita, baju, rupa, dan sebagainya): cerita yang --; pakaian yang --; 2 baik hati; tidak jahat (tentang kelakuan, budi pekerti): -- budi bahasanya;” tulis Fadli di akun  @fadlizon.

Tak hanya itu, Ketua Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Papua, itu menilai Pemerintah telah  gagal menciptakan keamanan dan ketertiban di wilayah tertentu di Papua. Menurut Fadli, ada kesan pemerintah tidak berdaya atau membiarkan gerakan separatis bebas merajalela.

Komentar

Artikel Terkait