Denny JA Kecam Habib Rizieq yang Wacanakan NKRI Bersyariah, Said Didu: NKRI Sudah Lama Bersyariah

itoday - Tokoh Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA menilai, mayoritas media mainstream tidak menjadikan Reuni 212 sebagai headline karena tokoh utama 212, Habib Rizieq Shihab berulang-ulag mewacanakan NKRI bersyariah. Padahal, mayoritas publik dan elit memahami, bahwa konsensus nasional itu Pancasila bukan NKRI Bersyariah.

Pernyataan itu disampaikan Denny JA melalui akun Twitter @DennyJA_WORLD. “Mengapa mayoritas media mainstram tidak menjadikan Reuni 212 sebagai Headline? Karena tokoh utama 212 Habieb Rizieq berulang ulang mewacanakan NKRI bersyariah. Padahal mayoritas publik dan elit memahami bahwa konsesus nasional itu Pancasila bukan NKRI Bersyariah,” tulis @DennyJA_WORLD.

@DennyJA_WORLD menambahkan: “Sayangnya, tokoh utama 212, Habieb Rizieq, berulang ulang mewacanakan NKRI bersyariah. Padahal konsesus Nasional kita itu Pancasila, bukan NKRI Bersyariah.”

Tidak sedikit yang mengecam cuitan @DennyJA_WORLD itu. Mantan Staf Khusus Menteri ESDM Muhammad Said Didu pun menyebut cara berpikir Denny JA sudah tidak obyektif. 

“Beginilah kalau berpikir sudah tidak obyektif. #NKRI sudah lama bersyariyah, banyak aturan berbasis syariyah seperti Bank Syariyah dll, bahkan negara non Muslim pun ada yg menyerahkan ekonomi syariyah,” tulis Said Didu di akun @saididu.

Senada dengan Said Didu, politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menegaskan umat Muslim yang menjalankan syariah kesehariannya sekarang hidup di bawah Pancasila.

“Bukankah Muslim yang menjalankan Syariah kesehariannya sekarang hidup di bawah Pancasila? Bank Syariah bukankah hidup dibawah Pancasila? 5 Rukun Islam dijalankan oleh masyarakat di bawah Pancasila, bukankah itu bersyariah? Kelasmu cuma segitu bung Denny?” tanya Ferdinand di akun @Ferdinand_Haean.

Sebelumnya, wartawan senior mantan jubir Presiden KH Abdurrahman Wahid, Adhie M Massardi menilai, reuni 212 “layak liput”. Tokoh Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini mendesak Polri dan Kemenkominfo untuk menginvestigasi media-media yang tidak meliput Reuni 212. 

“POLRI & KOMINFO harus investigasi media-media yang tidak liput Reuni 212. Sebab isu yang beredar mereka diintimidasi penguasa. Kalau betul, ini dzalim. Kalau tak betul, lebih dzalim lagi karena media-media itu fitnah penguasa (ingat kasus Ratna Sarumpaet). Sebab secara jurnalistik 212 layak liput!” tegas Adhie di akun @AdhieMassardi.

Komentar

Artikel Terkait