Non Muslim Tak Disebut Kafir, Rokhmat Labib: Kok Berani dan Lancang Hapus Istilah Al Quran?

itoday - Semua masalah agama jadi masalah bukan karena masalah agama itu sendiri, tetapi karena negara mulai gagal melaksanakan tugasnya, terutama gagal menegakkan keadilan dan gagal menciptakan kemakmuran. Lalu negara cari kambing hitam, dan menemukan agama.

Pendapat itu disampaikan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menanggapi polemik hasil sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, Banjar Patroman (28/02) yang menyarankan agar Warga Negara Indonesia yang beragama non-Muslim tak lagi disebut sebagai kafir.

Pertanyaan menarik dilontarkan Fahri Hamzah soal sebutan “kafir”. Coba jawab aja pertanyaanya? Kenapa ada #KataKafir dalam Quran dengan berbagai bentuk sebanyak 525 kali? Masak kebetulan? Tapi tahukah kamu berapa #KataKafir dalam konstitusi, UU dan hukum di INDONESIA? NOL alias GAK ADA.  Lalu kenapa gelisah?” tulis Fahri di akun Twitter @Fahrihamzah.

Pertanyaan keras dilontarkan pemikir Islam Ustadz Rokhmat S Labib. “Surat al-Kafirun jelas menyebut kafir adalah siapa pun: (1) menyembah selain sesembahan Rasulullah saw, Allah Swt (ayat 2-5); (2) tidak memeluk agama Rasulullah saw, Islam (ayat 6). Kok berani dan lancang menghapus istilah al-Quran, apa tidak takut dengan Zat yang menurunkannya?” tulis Ustadz Rokhmad di akun @RokhmatLabib.

Tak kalah garang, pengasuh Ponpes Sidogiri Ustadz Achyat Ahmad menegaskan bahwa menyangkal keyakinan orang kafir adalah kafir. “MUSLIM VS KAFIR. Setiap Muslim wajib berkeyakinan bahwa di luar pemeluk Islam adalah kafir. Karena itu, menyangkal kekafiran orang kafir adalah kafir. Namun demikian, agama Islam mewajibkan setiap Muslim berbuat baik kepada siapa saja, termasuk kepada orang-orang kafir,” tegas Ustadz Achyat di akun @AchyatAhmad.

Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Tengku Zulkarnain, mengingatkan bahwa kata kafir tidak saja ada dalam Al Quran tetapi juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

“Kata Kafir Ada dalam Al Qur'an Sudah Ada Sejak Nabi Adam belum Turun ke Dunia. Juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sekarang Diusulkan Jangan Dipakai karena Menyakiti Orang di Luar Islam? Lama-lama mereka yang Memakai Dimasukkan Penjara karena Menyakiti? Itu Mau Kalian?

Kenapa Tidak Buat Qur'an Sendiri Aja?” tulis Ustadz Tengku di akun  @ustadtengkuzul

Pimpinan Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah, Abdul Moqsith Ghazali mengungkapkan bahwa 

saran melarang menyebut warga negara non-muslim kafir bukan untuk menghapus istilah kafir dalam Alquran maupun hadis. Namun ini untuk mengimbau masyarakat yang seringkali menyematkan label diskriminatif pada sebagian kelompok warga yang beragama Islam namun berbeda pendapat maupun non-muslim. Karena dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada keterlibatan aktif dari warga negara non muslim. Selain itu, menurut para ulama kata kafir dianggap mengandung unsur kekerasan teologis.

Pemikir Islam Ustadz Hilmi Firdausi tidak sependapat jika dikatakan kata kafir mengandung kekerasan teologis. “Kata kafir mengandung kekerasan teologis? Anda semua pasti tau apa arti kafir...bukankah artinya terdengar bijak sekali sehingga ada dalam Al Qur’an? Apakah kalian merasa lebih hebat dibanding Allah yang menurunkan Al Qur’an dengan mengganti sebutan kafir bagi orang yang bukan beragama Islam?” tulis Ustadz Hilmi di akun  @Hilmi28.

Komentar

Artikel Terkait