Jokowi Mau Tambah Dua Kementerian, Adhie Massardi: Demi Jatah Parpol! PKB Saja Minta 10 Menteri

itoday - Presiden Joko Widodo mengungkapkan akan menambah dua kementerian baru, yakni Kementerian Investasi dan Kementerian Ekspor. Hal itu disampaikan Jokowi ketika membuka Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2019 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Tangerang Selatan (12/03).

Menurut Jokowi, dua kementerian itu dibutuhkan untuk sebagai jawaban atas ekspor dan arus investasi yang rendah. “Saya sudah sampaikan minggu lalu dalam forum rapat kabinet, apakah perlu, saya bertanya, apakah perlu kalau situasinya seperti ini yang namanya menteri investasi dan menteri ekspor,” kata Jokowi.

Rencana Jokowi itu mengundang reaksi keras dari banyak kalangan. Ekonom senior Rizal Ramli menilai, keinginan Jokowi itu sebagai ekspresi dari pola pikir yang rumit atau ribet. 

Menurut Rizal, praktik impor yang menggila belakangan ini justru dilakukan oleh Kementerian Perdagangan yang bertanggung jawab terhadap peningkatan volume ekspor.  “Wong tinggal pecat Menteri Perdagangan yang jadi raja impor. Itu aja ndak berani. Kok ini malah mau menambah keribetan baru. Walah, piye toh,” ujar Rizal Ramli seperti dikutip rmol (12/03).

Mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Adhie Massardi juga menyoal rencana Jokowi itu. Menurut Ketua Umum Perkumpulan Swing Voters (PSV) ini, penambahan kementerian baru bukan demi kepentingan organisasi pemerintahan, tetapi untuk mengakomodasi jatah parpol pendukung yang kian ‘gemuk’.

“NAMBAH JATAH PARPOL ● sebetulnya nambah kementeriaan bukan demi kepentingan organisasi pemerintahan, tapi untuk akomodasi jatah parpol pendukung yg kian gemuk. PKB saja minta imbalan 10 menteri...,” tulis Adhie di akun Twitter @AdhieMassardi meretweet tulisan bertajuk “Jokowi Mau Bikin Dua Kementerian Baru”

Sebelumnya, Direktur Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal menilai, wacana Jokowi  membentuk dua kementerian baru masih perlu kajian yang dalam. Pasalnya, buruknya kinerja ekspor dan investasi dikarenakan sistem yang kurang kondusif. "Saya pikir lebih banyak lemahnya kinerja ekspor dan investasi karena sinergi antar kebijakan terkait," ujar Faisal kepada kontan.co.id (12/03).

Komentar

Artikel Terkait