Tebar Logika Kusut ‘Prabowo Dukung Khilafah’ Demi Anjloknya Elektabilitas Lawan

itoday - Pilpres 2019 ditingkahi dengan penciptaan opini bahwa Pilpres saat ini adalah perang total antara Pancasila melawan Khilafah. Ketika Pancasila dilawankan dengan Khilafah, pencipta opini  memastikan bahwa tidak ada cerita kalah untuk kubu yang dibela sang pencipta opini. 

Secara sederhana kesimpulan ini ditarik dari pernyataan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah di akun Twitter @Fahrihamzah. Fahri meminta semua pihak untuk mewaspadai penciptaan opini Pilpres 2019 adalah perang total ideologi Pancasila melawan Khilafah. “Coba kita waspadai ini: Ada yang menciptakan opini bahwa Pilpres ini adalah perang total  Pancasila Melawan Khilafah, karena itu tak ada cerita kalah. Harus Menang!. Lalu waspadalah dengan upaya mendapatkan kemenangan dengan menghalalkan segala cara. #Waspadalah!,” demikian tulis @Fahrihamzah. 

Dalam satu rangkaian, setelah tercipta opini “Pilpres 2019 adalah perang Pancasila vs Khilafah”, selanjutnya bisa dipastikan akan ada tudingan kepada salah satu capres, bahwa yang bersangkutan mendukung Khilafah. Karena isu Pancasila vs Khilafah dimunculkan kembali jelang Pilpres 2019, capres yang dipersepsikan mendukung Khilafah akan tergerus elektabilitasnya. 

Mantan Kasum TNI Letjen (purn) Suryo Prabowo sempat menegaskan, isu mendukung khilafah yang dialamatkan kepada capres nomor urut 02 Prabowo Subianto merupakan fitnah yang membunuh karakter untuk menurunkan elektabilitas Prabowo. Selain isu mendukung khilafah, Prabowo memaparkan isu lain yang sengaja disebarkan untuk menurunkan elektabilitas Prabowo Subianto. “Untuk menurunkan elektabilitas @prabowo 21 th dihembuskan FITNAH: pelanggar HAM, dalang kerusuhan Mei 98, dari keluarga kafir, gak pernah sholat jum’at, mau ndirikan khilafah. Dalam waktu dekat ini akan ada lagi FITNAH yang lebih seru lagi untuk membunuh karakternya. Bagaimana sikap Anda?” tulis Prabowo di akun @marierteman. Melalui cuitan itu, Prabowo ingin menguji persepsi netizen terkait sejauhmana isu-isu itu mempengaruhi pilihan netizen di Pilpres 2019.

Pertanyaannya, seberapa masif isu khilafah digalang kubu salah satu capres. Biarlah video viral yang merekam kampanye terselubung salah satu Kapolsek di Pamekasan Madura yang menjawab. Dalam video sang Kapolsek berupaya menyudutkan salah satu capres dengan mengatakan bahwa "salah satu capres disusupi khilafah dan menginginkan NKRI bubar".

Jika kampanye terselubung Kapolsek di Pamekasan tersebut di atas mewakili kalangan aparat. Cuitan-cuitan netizen milik publik figur yang dikenal pendukung capres petahana, Joko Widodo, bisa mewakili kalangan intelektual dan aktivis untuk menilai tingkat ke-masifan isu “mendukung khilafah” itu disebarkan. Aktivis NU yang juga caleg Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Guntur Romli terlihat “konsisten” menebar isu bahwa Prabowo Subianto didukung tokoh-tokoh pro Khilafah. Aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) ini menyebut Ustadz Bachtiar Nasir sebagai salah satu pendukung Khilafah yang kini mendukung Prabowo-Sandi. “Bachtiar Nasir Pejuang dan Pendukung Khilafah kini Mendukung Prabowo Sandi. Hati-hati penyusupan pro Khilafah,” tulis Guntur Romli di akun Twitter @GunRomli mengomentari pidato dukungan Ustadz Bachtiar Nasir ke Prabowo-Sandi yang disampaikan di acara Sarasehan Akal Sehat di GOR Bulungan, Jakarta Selatan (01/04).  “Yang tolol itu Bachtiar Nasir dan yang  percaya kalau Bachtiar Nasir tidak dukung Khilafah. Video ini bukti Bachtiar Nasir dukung Khilafah!” sambung @GunRomli.

Jika dicermati, dalam video itu Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) berkali-kali menyebut Pancasila. “Mari bersama-sama, dengan Garuda Pancasila ini, saya tegaskan, saya Bachtiar Nasir yakin bersama Prabowo-Sandi kita akan berdaulat bersama Pancasila kita,” tegas pendiri Al-Quran Learning Center (AQL) ini. UBN juga membantah tudingan soal Khilafah. “Kita dan saya pasang Garuda… yang telah melakukan penistaan kekotoran tentang tuduhan-tuduhan khilafah yang sangat tolol itu,” seru UBN.

Baik elit pendukung maupun Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam banyak kesempatan sudah menegaskan sikapnya soal Khilafah. Tetapi mengapa isu itu terus ditebarkan? Tak salah jika ada dugaan, isu capres 02 mendukung Khilafah lebih didasarkan pada keinginan kuat sepihak untuk men-stigmatisasi bahwa pendukung 02 itu radikal dan ekstremis. Partai Gerindra yang sempat berkoalisi dengan PDIP, jelas-jelas parpol yang dasarnya nasionalis dan Pancasilais. Demikian juga parpol pendukung, misalnya Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN). Isu mendukung Khilafah juga sempat tersebar di Pilkada DKI. Secara masif bertebaran provokasi bahwa pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno didukung tokoh khilafah dan tokoh Islam radikal sehingga pemerintahannya akan mendukung Islam radikal dan khilafah. Faktanya, tudingan konyol itu tidak terbukti. Anies-Sandi memerintah dengan kebijakan yang sangat toleran. 

Sebagai penutup, guyonan netizen ini mungkin bisa mempengaruhi nalar khalayak soal logika ‘Prabowo mendukung Khilafah’, dengan alasan didukung tokoh-tokoh yang diduga mendukung Khilafah. “Ketum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza membela Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di ranah hukum. HTI mendukung PBB. Belakangan Yusril Ihza Mahendra mendukung Joko Widodo. Apakah Jokowi juga mendukung Khilafah?”

***

Komentar

Artikel Terkait