Anggota KPPS Gugur Capai 144, Jubir Gus Dur: Investigasi dan Otopsi Korban! KPU Bisa Dipidana!

itoday -Jumlah anggota KPPS yang meninggal dunia dalam menjalankan tugas di Pemilu 2019 terus bertambah. Berdasarkan rilis terbaru KPU (24/04) tercatat 144 anggota KPPS meninggal, dan 883 lainnya dalam kondisi sakit.

Mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid, Adhie M Massardi mendesak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk mengotopsi anggota KPPS yang meninggal untuk mengetahui penyebab kematian, lelah fisik atau tekanan psikis.

“MEMANGGIL IDI ● dokter adalah profesi dengan landasan moral intelektual (kemanusiaan) tinggi. Harus segera bentuk tim invetigasi dengan kerjasama or tidak sama KPU. Ini soal kemanusiaan. Begitu banyak yang meninggal. Ini KLB kejadian luar biasa. Otopsi. Ada apa? Lelah fisik or tekanan psikis?,” tulis  Adhie di akun Twitter @AdhieMassardi.

Ketum Perkumpulan Swing Voter Indonesia ini menegaskan harus ada yang bertanggungjawab atas kejadian ini. Dalam hal ini ada Delik Culpa. “PANCASILA itu paket nilai-nilai luhur yang jadi dasar negara kita. Tapi ada musibah besar yang newaskan 144 orang dan 883 lainnya masuk RS, koq yang dipikir santunannya, bukan investigasi kejadiannya. Apa sebab? Siapa paling tanggungjawab? Para ahli hukum (pidana) pasti paham ada Delik Culpa,” tegas @AdhieMassardi.

Terkait delik culpa, Adhie menegaskan bahwa KPU bisa dituntut karena mempekerjakan orang melebihi jam kerja sesuai UU Tenaga Kerja. “Bisa. Ada delik culpa. Pasal 359 KUHP: "Barang siapa karena kelalaiannya (alpa) menyebabkan orang lain meninggal dunia, diancam dengan pidana 5 tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun" tegas  @AdhieMassardi menjawab pertanyaan akun  @YaaHaadii_Ihdin.

Adhie membandingkan jam kerja anggota KPPS dengan pekerja Rodi dan Romusha di era penjajahan. “INVESTIGASI dan otopsi itu jadi penting untuk ungkap penyebab begitu banyaknya nyawa melayang, dan yang masuk RS hanya dalam tempo sepekan. Padahal mereka benar-benar ngabdi untuk sukseskan demokrasi, bukan cari honor. Kalau lelah fisik, coba buka sejarah. Waktu Rodi & Romusha apa begini?,” beber @AdhieMassardi.

Founder Junior Doctor Net (JDN) Indonesia  Andi Khomeini Takdir di akun Twitter  @dr_koko28 menanggapi pernyataan Adhie Massardi: “Dua-duanya bang. Lelah fisik. Lelah psikis. Ini Pilpres dan Pileg digabung. Belum lagi,....”

@AdhieMassardi menambahkan: ”Yang harus dijelaskan dokter adalah: mana lebih cepat memicu penyakit mematikan yang mungkin ada dalam tubuh. 1. Kelelahan fisik atau. 2. Tekanan psikis (depresi)

● kalau depresi, kira2 tekanan psikis seperti apa yg dirasakan saudara2 kita pengabdi demokrasi ini?”

Komentar

Artikel Terkait