KH Abdurrahman: OBOR China Membunuh! KH Said Aqil: Jangan Marah Jika Orang China Kerja di RI

itoday - Saat menerima Dubes China untuk Indonesia Xiao Qian, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan jika jumlah tenaga kerja China di Indonesia ingin dikurangi, tenaga kerja Indonesia harus menguasai bahasa China. Alasannya, banyak petunjuk kerja di dunia industri menggunakan bahasa Mandarin.

"Lha, insinyur Indonesia jarang bisa bahasa China. Makanya tenaga China dibagi, dibawa ke Indonesia. Jangan marah kalau banyak orang China kerja di sini, karena katalog itu bahasa China, bukan bahasa Inggris. Orang Indonesia banyak yang nggak bisa bahasa China," kata Kiai Said di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jagakarsa, Jakarta Selatan (09/05).

Pada saat Dubes China untuk Indonesia dijabat Xie Feng, Kiai Said sempat meminta umat Islam di China bisa menjaga kondusifitas dengan tak mengusik ranah politik pemerintahan RRT. "Saya berharap kepada umat Islam RRT, beribadahlah dengan tenang jangan masuk wilayah politik. Cukup diberi kebebasan beribadah dengan baik, jangan ngutik-utik politik di RRC," kata Kiai Said ketika itu (06/07).

Di sisi lain, Minggu (12/05), di Pondok Pesantren Darussalam, Wanaraja, Garut, Jawa Barat, ribuan ulama Ahlussunah wal Jama’ah  (Aswaja) menuntut Pemerintahan Joko Widodo  untuk membatalkan kontrak proyek One Belt One Road (OBOR).

Salah satu ulama Aswaja Jawa Timur yang hadir di acara Multaqo Ulama Aswaja itu, KH Abdurrahman Salam, menegaskan bahwa OBOR China akan membunuh. Untuk itu sebelum OBOR China “membunuh”, “bunuh” terlebih dahulu OBOR China. 

Sindiran keras dilontarkan founder AMI Foundation Azzam M Izzulhaq terkait sikap sebagian Muslim di Indonesia yang “menutup mata” terhadap kekejaman China terhadap minoritas Muslim di Xinjiang.

“Sama seperti yang saya alami. Maka, aneh apabila ada utusan ormas yg diundang oleh Pemerintah Tiongkok ke Xinjiang, lalu ketika kembali ke Indonesia tiba-tiba menjadi juru bicara meraka. Dikasih makan apa?,” tulis Azzam Izzulhaq di akun Twitter  @AzzamIzzulhaq meretweet tulisan bertajuk “Security cameras and barbed wire: Living amid fear and oppression in Xinjiang”.

Senada dengan Azzam Izzulhaq, pemikir Islam Isnawan Aslam juga melontarkan sindiran melalui akun  @kangnawan. “Konyolnya ada orang (kalau gak salah tokoh) yang membela penuh antusias kebijakan Cina yang akan menjajah NKRI. Siapakah tokoh itu? Ah, pasti pahamlah siapa dia,” tulis @kangnawan.

Komentar

Artikel Terkait