Polisi Klaim Profesional Soal Penangkapan Eggi Sudjana, Pengamat: Kalau Ulin Yusron Aman Dong?

itoday - Satu persatu pendukung capres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ditangkap dengan tuduhan melakukan makar. Setelah sebelumnya, Kivlan  Zen dan Luis Sungkarisma ditetapkan sebagai tersangka makar, kini aktivis Islam Eggi Sudjana ditangkap pihak kepolisian dengan kasus makar.

Kuasa hukum Eggi, Pitra Romadoni, mempertanyakan penangkapan kliennya yang ditangkap oleh petugas kepolisian ketika sedang menjalani pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Metro Jaya. “Ini kan aneh, apa alasannya sampai klien saya itu ditahan. Apalagi ditahan saat diperiksa penyidik di ruangannya. Apa maksudnya ini? Kalau yang namanya penangkapan kan biasanya di luar daripada ruang penyidik,” tegas Pitra kepada awak media di Mapolda Metro Jaya (14/05).

Menurut Pitra, surat penangkapan Eggi Sudjana tersebut tidak adil. Eggi telah dikriminalisasi, bahkan diduga kasus yang menjerat Eggi tersebut sudah bukan lagi dalam ranah hukum tapi sudah masuk ke dalam ranah politik.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono mengklaim, penangkapan terhadap Eggi Sudjana sudah sesuai prosedur. Argo membantah penangkapan dilakukan secara sewenang-wenang. Tahapan yang ada sudah ditempuh dengan benar. “Kita bekerja profesional,” kilah Argo.

Pengamat politik Umar Syadat Hasibuan mempertanyakan profesionalitas kepolisian dalam menangani kasus Eggi Sudjana. Umar membandingkan profesionalistas kepolisian dalam menangani aksi sebar data kependudukan di sosial media yang dilakukan buzzer Joko Widodo, Ulin Niam Yusron. 

“Kalau Ulin Yusron gimana? Aman donk ya,” tulis Umar Hasibuan di akun  Twitter @Umar_Hasibuan_ menanggapi tulisan bertajuk “Polisi Klaim Profesional Soal Penangkapan Eggi Sudjana”.

Sebelumnya, putri Bung Karno Rachmawati Soekarnoputri menanggapi sejumlah tokoh yang dituduh makar pada Pemerintahan Jokowi, salah satunya Kivlan Zen. Rachmawati menyatakan justru Megawati Soekarnoputri telah melakukan makar saat menjadi wakil presiden pendamping presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. 

"Kalau mau bicara secara objektif yang disebut makar itu adalah Megawati Soekarnoputri," ujar Rachmawati di kediamannya di Jalan Jati Padang Raya, Jakarta (13/05).

Rachmawati menuturkan makar yang dilakukan Megawati terjadi ketika Presiden Gus Dur hendak menetapkan Chairuddin Ismail sebagai Kapolri. Menurut Rachmawati, Megawati melakukan tindakan insubordinasi atas pilihan Gus Dur agar Suroyo Bimantoro bisa menjadi Kapolri.

Komentar

Artikel Terkait