Fahri Hamzah Tantang Wiranto Tunjukkan Siapa yang Akan Pimpin Gerakan Makar!

itoday - Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah meminta Menkopolhukam Wiranto untuk menunjukkan pihak-pihak yang akan melakukan makar, termasuk siapa yang akan memimpin gerakan makar itu.

Reaksi Fahri itu menanggapi ungkapan Wiranto yang menyatakan Tim Asistensi Hukum Menkopolhukam dibentuk karena tercium bau makar.

“Mencium bau makar tidak boleh dicium sendiri...publik harus tau...makar kan gerakan bersenjata yang membahayakan negara...di mana mereka? Siapa yang pimpin? Mana gambarnya? Ayo buka pak...,” tegas Fahri Hamzah di akun Twitter  @Fahrihamzah menanggapi tulisan bertajuk “Wiranto Cerita Alasan Bentuk Tim Asistensi Hukum: Cium Bau Makar”.

Wartawan senior Uni Lubis turut mempertanyakan pernyataan-pernyataan Wiranto soal makar belakangan ini. Di akun Twitter @unilubis, Uni Lubis mengutip pernyataan Wiranto di Hotel Paragon (16/05). 

"Kalau 1998 dulu enggak, senapan dipakai, pakai peluru hampa. Lawannya pakai peluru tajam bunuhin orang. Sekarang enggak, senapan simpen aja. Pakai pentungan aja. Itu pun kalau perlu aja dipakai," ujar Wiranto di Hotel Paragon, Jakarta pada Kamis, 16 Mei 2019. Yang bunuhin sopo?,” tanya @unilubis.

Menurut Uni Lubis penanggungjawab keamanan tertinggi Panglima ABRI yang ketika itu dijabat Wiranto. “Tahun 1998 itu yang punya peluru tajam siapa? Pak W ini kan Panglima ABRI yha. Mestinya penanggungjawab keamanan tertinggi. Jadi soal peluru tajam ini urusan siapa?,” tanya @unilubis.

Sebelumnya, dalam sebuah diskusi Iluni di Salemba (16/05), Wakil Ketua Ombudsman RI, Lely Pelitasari menjelaskan, pihaknya menilai ada indikasi kuat terjadinya maladministrasi dalam pembentukan tim asistensi hukum oleh Wiranto. Meski dibentuk secara legal, tim tersebut masih dinilai maladministrasi karena adanya struktural kementerian di dalamnya. 

"Karena kalau kita lihat itu pembuatan tim ini di dalamnya ada unsur struktural, padahal yang ditekankan adalah independensi tim ini dalam konteks hasil-hasil kajiannya. Ini jadi bias persepsi begitu," ujar Lely (16/05).

Komentar

Artikel Terkait