Halal Bihalal Alumni 212 di MK Ditolak Polisi, Fahri Hamzah: Tak Perlu Izin, Rezim Izin Sudah tak Ada!

itoday - Halal Bihalal Akbar yang bakal digelar Persaudaraan Alumni 212 di sekitar Gedung Mahkamah Konstitusi, Kamis (27/06) terancam batal. Pihak kepolisian melarang aksi massa Alumni 212 itu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes (Pol) Argo Yuwono, menyatakan aksi massa di depan Mahkamah Konstitusi Jakarta yang digelar hari ini (26/06) dan besok (27/06) tak ada izin. Kepolisian  belum menerima dan bakal tidak memberi izin terkait rencana aksi tersebut.

"Tentunya dari pihak kepolisian sudah menyampaikan bahwa tidak diperbolehkan, dilarang aksi di depan MK ya. Tentunya dengan harapan kalau ada aksi di depan MK, melanggar Undang-Undang tentang penyampaian pendapat di muka umum," tegas Argo Yuwono (26/06).

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengecam sikap kepolisian terkait acara Halal Bihalal Akbar 212. “Rezim izin sudah tidak ada... Berpendapat tidak memerlukan izin siapapun...#ArahBaru2019,” tulis Fahri di akun Twitter @Fahrihamzah menanggapi tulisan bertajuk “Syarat Tak Terpenuhi, Izin Aksi Massa di MK Besok Ditolak Polisi”.

Di sisi lain, Koordinator Gerakan Kedaulatan Rakyat (GKR) Abdullah Hehamahua menegaskan bahwa aksi “kawal MK”  tidak ada kaitannya dengan siapa pun, baik Prabowo Subianto maupun Joko Widodo (Jokowi).

"Saya tidak ada urusan dengan Prabowo, tidak ada urusan dengan Sandi, dengan Jokowi, dengan Kiai Ma'ruf Amin. Ini soal rakyat, soal bangsa, soal eksistensi NKRI," tegas Abdullah saat berorasi di atas mobil komando Aksi Kawal MK, di Patung Kuda, Monas, Jakarta Pusat (26/06).

Abdullah juga menegaskan, instruksi dari Prabowo Subianto untuk tidak menggelar aksi massa menjelang dan pada saat pembacaan keputusan MK soal gugatan Pemilu 2019, hanya untuk mengantisipasi kejadian seperti kerusuhan 22 Mei 2019 tak terulang. 

"Saya tahu Pak Prabowo tidak ingin (peristiwa) 22 Mei terulang. Jemaah pada malam itu sudah pulang bubar dengan tertib dan kembali ke masjid masing-masing. Kemudian 1 jam datang gerombolan membuat kerusuhan, apakah ustaz punya tato di badan, orang yang membuat rusuh bertato, minum minuman keras, dan waktu itu Ramadan. Saya bisa mengerti Prabowo menganjurkan itu karena cinta rakyat," tegas Abdullah Hehamahua.

 

Komentar

Artikel Terkait