Pasok S-400 Rusia ke Turki, Strategi Putin Memecah NATO

itoday - Turki telah menerima kiriman perdana sistem pertahanan rudal S-400 yang dibeli dari Rusia. Pakar NATO berpendapat penjualan senjata pertahanan cangggih Moskow kepada Ankara itu merupakan strategi Presiden Vladimir Putin untuk memecah NATO.

NATO dibuat tidak nyaman dengan kenekatan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang tetap mengakuisisi sistem pertahanan rudal jarak jauh Moskow itu, terlebih Amerika Serikat (AS)—sekutu Ankara di NATO—sudah berulang kali memperingatkan dampak senjata itu terhadap sistem keamanan aliansi.

Pemerintah Erdogan selama ini mengklaim memilih membeli sistem S-400 Rusia karena Washington menolak menjual sistem pertahanan rudal Patriot. Klaim itu telah dibantah para pejabat AS. 

Menurut pakar NATO, Ian Lesser, Presiden Rusia Vladimir Vladimorvich Putin telah memainkan strateginya dalam memecah NATO melalui Turki. Penggunaan senjata pertahanan Rusia oleh Turki telah memicu kegelisahan AS karena status Ankara di keanggotaan NATO masih aktif. 

"Konsekuensi politik dari ini sangat serius, karena pengiriman (S-400) akan mengonfirmasi banyak gagasan bahwa Turki beralih ke alternatif (senjata) non-Barat," kata Lesser, yang merupakan direktur German Marshall Fund di Brussels. 

"Ini akan menciptakan banyak kecemasan dan perasaan buruk di dalam NATO. Itu jelas akan semakin meracuni sentimen untuk Turki di dalam aliansi," ujarnya, seperti dikutip New York Times, Sabtu (13/7/2019).

Diposisikan secara strategis di persimpangan Eropa dan Asia, dan berbagi perbatasan di Laut Hitam dengan Rusia, Turki telah lama menjadi pasak vital di NATO dan salah satu anggotanya yang paling berduri.

Komentar

Artikel Terkait