MS Kaban: “Saya Pancasila” jadi Alat Gebuk Rival Politik Jokowi? NKRI Harga Mati jadi “Mati Harga”

itoday - Ketua Dewan Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) MS Kaban mengingatkan agar “sejarah kelam” dengan mengusung kampanye “saya Pancasila” untuk menggebuk rival politik, tidak diulang lagi.

Mantan Menteri Kehutanan ini melihat gelagat Presiden Joko Widodo mulai menoreh sejarah kelam itu. “Sepertinya Presiden Jokowi mulai menoreh sejarah kelam dengan  mengulang kembali saya PANCASILA menjadi alat penggebuk rival politik yang berbeda. Bermanfaatkah untuk kepentingan Persatuan Indonesia? Tegas musuh Indonesia itu komunis perintah UU,” tulis MS Kaban di akun Twitter @hmskaban.

Saat ini, dorongan agar Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan semakin menguat. Apalagi Kemendagri menyebut FPI belum menyerahkan seluruh berkas persyaratan untuk memperpanjang Surat Keterangan Terdaftar (SKT). Dari 20 berkas yang diminta, FPI baru menyerahkan 12. Hal itu diungkapkan Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Soedarmo, kepada Medcom.id (30/07).

Menurut Soedarmo, beberapa dokumen yang masih kurang di antaranya surat rekomendasi dari instansi pemerintah. Seperti rekomendasi dari Polri dan Kementerian Agama.

Soal desakan pembubaran FPI, @hmskaban sempat menulis: “Presiden Jokowi mau bubarkan FPI dengan  alasan ideologi bangsa. Presiden jelaskan dulu idiologi bangsa iku opo. Apa betul Presiden beridiologi dan ideologi FPI itu opo. Apakah berhutang berkelanjutan itu idiologi bangsa. Perlu pencerahan.”

MS Kaban membeberkan bahwa NKRI harga mati menunjukkan sikap nasionalisme Indonesia yang tidak bisa ditawar-tawar. Lalu, bagaimana jika dipadukan dengan realitas beban kehidupan rakyat saat ini?

“Mengungkapkan NKRI harga mati menunjukkan sikap nasionalisme Indonesia yang tidak bisa ditawar-tawar, heroik memang. Spirit itu jika dipadukan dengan realitas beban  kehidupan rakyat yang semakin berat dan pemerintah sepertinya pasrah, NKRI harga mati berubah menjadi "mati harga",” sindir  @hmskaban.

Gelombang penolakan pembubaran FPI semakin menguat. Bahkan hastag atau tagar #SaveFPI menjadi trending topic sosial media.

Politisi PKS Mardani Ali Sera menegaskan bahwa bagi FPI, Merah Putih dan Pancasila sudah final. “Saya sering diskusi dan hadiri undangan FPI. Bagi merek Merah Putih & Pancasila sudah final, karena prosesnya dibuat oleh "ijtima" ulama-ulama terdahulu, FPI taat ulama | FPI cinta rakyat & negeri, di daerah manapun musibah mereka hadir membantu. meski di pelosok,” tegas Mardani di akun  @MardaniAliSera.

Tak kurang, sosiolog yang juga rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar, mengapresiasi sepak terjang FPI di bidang kemanusiaan. “Menurut pengamatan saya, satu-satunya organisasi kemasyarakatan yang mengamalkan frasa “amar ma’ruf nahi munkar” secara berani dan konsisten adalah Front Pembela Islam (FPI),” tulis Musni Umar di tulisan panjang bertajuk “FPI Pembela Pancasila Dan NKRI, Bermanfaat Bagi Rakyat”.

Komentar

Artikel Terkait