MS Kaban: Sangat Jahat! Framming Panji Tauhid Al Liwa dan Ar Roya Sebagai Bendera HTI

itoday - Nama Enzo Zenz Allie terus dikait-kaitkan dengan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Taruna Akademi Militer (Akmil) TNI ini dituding berpaham radikal setelah beredar foto Enzo di sosial media yang membawa bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid.

Perdebatan soal bendera hitam itu kembali menguat. Guru sekaligus Kepala Sekolah Pondok Pesantren Al Bayan di mana Enzo belajar, Deden Ramdhani, menegaskan bahwa bendera yang dibawa Enzo adalah bendera panji Rasulullah.

Deden juga memastikan Enzo tidak terindikasi masuk ke ormas terlarang HTI. Pihak pesantren bisa menjamin muridnya itu seorang yang Pancasilais. "Sangat Pancasilais, saya berani menjamin. Saya bersama beliau (Enzo) 3 tahun di sini, Enzo benar-benar sangat cinta NKRI," kata Deden seperti dikutip detik.com (07/08).

Di sisi yang lain, ada pihak yang menyebut bendera yang dibawa Enzo itu sebagai bendera HTI.

Aktivis liberal Permadi Arya atau Abu Janda di akun Twitter @permadiaktivis menulis: “Lagi heboh calon prajurit Enzo diduga terpapar ideologi ekstrim Khilafah anti Pancasila. Apakah bendera hitam bertuliskan tauhid benar panji Nabi? ATAU bendera teroris yang dicarikan dalil cocoklogi untuk dibenarkan? Sebuah utas.”

Pihak pesantren bisa menjamin muridnya itu seorang yang Pancasilais. Enzo menunjukkan kecintaan terhadap NKRI dengan banyak ikut kegiatan yang berkaitan dengan kenegaraan. Enzo, kata Deden, pernah mewakili berbagai ajang, seperti Olimpiade tingkat siswa, atletik, maraton, dan bahkan upacara bendera Merah Putih.

Secara umum, Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) MS Kaban menegaskan, bahwa framing bendera Tauhid Al Liwa dan Ar Roya sebagai bendera HTI, sangat jahat.

Mantan Menteri Kehutanan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini bahkan meminta Presiden Jokowi untuk menghentikan polemik bendera Al Liwa dan Ar Roya.

“Framming bendera tauhid Al Liwa dan Ar Roya sebegai HTI sangat jahat. Muslim memusuhi bendera tauhid sungguh di luar nalar waras. Antipati terhadap bendera Tauhid dari seorang Muslim bukankah pertanda kaum pendusta. PYM Presiden Jokowi akhirilah polemik ini. Kepala Negara punya otoritas untuk itu,” tulis MS Kaban di akun Twitter @hmskaban.

Catatan keras ditulis pengamat politik Ardi Wirdamulia terkait isu “Islam radikal”. “Negara makin ngga jelas. Tapi ya udahlah. Narasi nakut-nakutin orang pakai Islam radikal itu emang alat yang ampuh buat bikin orang yang ngga kompeten bisa terpilih lagi. Silahkan dinikmati hasilnya. :p,” tulis Ardi di akun @awemany.

Komentar

Artikel Terkait