PM Mahathir Nilai Zakir Naik Ingin Terlibat Politik Rasial di Malaysia

itoday - Perdana Menteri Mahathir Mohamad menegaskan bahwa pemerintah Malaysia tidak melarang orang berceramah agama. Namun, dia menilai penceramah asal India, Zakir Naik, ingin terlibat politik rasial di negara multiras tersebut.

Pemimpin Malaysia ini mengatakan aturan hukum akan dikenakan pada Zakir Naik atas tuduhan bahwa ia telah berceramah tentang politik rasial dan memicu ketegangan rasial.

Perdana Menteri Mahathir mengaku tidak yakin siapa yang memberinya status penduduk tetap, namun terlepas dari itu, siapa pun yang memegang status itu tidak dapat berpartisipasi dalam politik.

"Guru agama dapat berceramah tetapi dia tidak melakukan itu. Dia berbicara tentang mengirim orang China kembali ke China dan orang India kembali ke India. Itu politik," kata Mahathir dalam konferensi pers setelah meluncurkan "62nd International Statistical Institute World Statistics Congress 2019" pada hari Minggu (18/8/2019).

Baru-baru ini, Negara Bagian Penang, Perlis, Kedah dan Sarawak dilaporkan telah melarang Zakir Naik berbicara di depan umum.

Mahathir mengatakan bahwa pemerintah berhati-hati tentang cara menyampaikan hal-hal yang sensitif terhadap berbagai komunitas di negara tersebut.

"Say belum pernah mengatakan hal semacam ini. Tapi dia menyuruh orang China untuk kembali," ujarnya, dikutip The Star.

"Jika Anda ingin berbicara tentang agama, silakan, maka itu dibolehkan. Kami tidak ingin menghentikannya dari itu. Tetapi sangat jelas ia ingin berpartisipasi dalam politik rasial di Malaysia. Sekarang, ia membangkitkan perasaan rasial. Itu buruk," kata Perdana Menteri.

Karena itu, lanjut Mahathir, polisi harus menyelidiki apakah penceramah itu menyebabkan ketegangan atau tidak, yang menurutnya, jelas dia melakukannya.

"Apa pun tindakan yang kami ambil akan sesuai dengan hukum. Pemerintah ini menghormati aturan hukum," katanya.

Dalam sebuah ceramah keagamaan di Kota Baru, Kelantan, pada 8 Agustus, Zakir menanggapi seruan untuk deportasinya dengan mengatakan bahwa orang China atau Tionghoa Malaysia harus "kembali" terlebih dahulu karena mereka adalah "tamu lama" dari negara tersebut.

Sebelum ini, Zakir mengatakan umat Hindu di Malaysia lebih loyal kepada Perdana Menteri India Narendra Modi daripada kepada Mahathir.

 

Sumber

Komentar

Artikel Terkait