Membangun “Mental Penjajah” ala Moeldoko, Dahnil Anzar: Narasi KSP Berbahaya Untuk Redam Konflik

itoday - Untuk kesekian kali pernyataan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko memunculkan polemik. Mantan Panglima TNI ini dinilai sering membuat statement yang berbuah kecaman.

Belum lama, Moeldoko dikecam setelah mengomentari kebijakan pemerintah untuk mematikan layanan internet di Papua dan Papua Barat pasca kerusuhan di sejumlah wilayah tersebut. 

"Enggak juga (pemblokiran data internet menganggu aktivitas ekonomi Papua). Kita akan lihat situasinya. [...] Dulu kita enggak ada [internet] juga hidup kok," demikian pernyataan Moeldoko yang berbuah kecaman.

Belakangan, pernyataan Moeldoko kembali mendapat kecaman. Pada acara bertajuk “Mengapa Indonesia Butuh Manajamen Talenta" yang digelar di Hotel Aryaduta (22/08), Moeldoko mengatakan bahwa Indonesia perlu meninggalkan mentalitas sebagai bangsa terjajah dan menggantinya dengan mental penjajah.

“Kita ini bangsa yang takut bersaing begitu hadapi orang luar. Kita harus membangun mental penjajah. Ngapain kita takut jadi orang seperti itu. Kita harus menghancurkan mental terjajah," ucap Moeldoko.

Terkait pernyataan Moeldoko yang kerap berbuah kecaman, politisi Gerindra Dahnil Anzar Simanjuntak memberikan masukan kepada Presiden Joko Widodo, bahwa pilihan narasi yang digunakan Kepala Staf Presiden (KSP) berbahaya untuk meredam konflik yang ada.

“Saran saya kepada Pak @jokowi pilihan-pilihan narasi yang digunakan KSP berbahaya untuk meredam konflik yang ada, dan bisa berdampak serius terhadap persatuan dan kesatuan NKRI, jadi saran saya Pak Moel berhati-hati memilih narasi. Satu kata bisa berdampak besar,” tulis Dahnil di akun Twitter @Dahnilanzar.

Pendiri dan peneliti di lembaga kajian media Remotivi, Roy Thaniago, turut mengomentari pernyataan Moeldoko. Roy mengingatkan bunyi UUD 45: “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan".

“UUD 1945: "Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan". Kepala Staf Kepresidenan: Indonesia harus membangun mental penjajah,” tulis Roy di akun @roythaniago.

Penulis Budhy Nurgianto ikut mengingatkan soal narasi “membangun mental penjajah”. “Mental penjajahlah yang dengan mudah membenarkan praktek-praktek rasisme dan intoleransi, serta membiarkannya tumbuh subur,” tulis Budhy di akun @BudhyNurgianto.

Komentar

Artikel Terkait