Pengamat: Percuma Jokowi Dengarkan Luhut dan Hendro Soal Papua! Gatot Nurmantyo Tahu Resepnya

itoday - Pengangkatan Mayjen Ali Hamdan Bogra asal Serui, Papua, sebagai Wakil Komandan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI, saat Papua bergolak, memunculkan berbagai spekulasi.

Ali Hamdan mendapat kenaikan pangkat dan jabatan bersama 17 perwira tinggi lain dari TNI Angkatan Darat. “Dari 56 orang Pati TNI terdapat 17 orang Pati TNI AD, termasuk beliau (Ali Bogra),” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Candra Wijaya seperti dikutip dari keterangan tertulis (05/09).

Candra menyampaikan hal itu seusai acara Laporan Korps Kepada Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa di Denma Mabesad.

Pengamat politik Arman Garuda Nusantara mengaitkan pengangkatan Ali Hamdan sebagai Wadan Sesko TNI dengan upaya untuk meredam konflik di Papua.

Menurut Arman, untuk menyelesaikan persoalan di Papua, khususnya gerakan separatis perlu pendekatan khusus.

“Dikira dengan mengangkat putra asli Papua untuk menduduki posisi strategis di institusi negara seperti TNI, Polri, Lembaga Kepresidenan lantas konflik di Papua bakal mereda? NO! Untuk menyelesaikan persoalan di Papua khususnya Gerakan Separatis itu perlu pendekatan khusus,” tegas Arman di akun Twitter @armangn8.

Arman menegaskan, sejumlah jenderal purnawirawan yang memberikan masukan kepada Presiden Joko Widodo tidak paham ilmu strategi dalam bergerilya.

“Percuma Pak Presiden @jokowi mendengar masukan dari Jenderal LBP, Wiranto dan Hendro Priyono. Wong ketiga Jenderal Purnawirawan itu hanya tahunya soal ilmu bantai-membantai dan ilmu intelijen saja kok. Kalau ditanya soal ilmu stratak dalam bergerilya bisa pusing kepala mereka..,” sindir  @armangn8.

Lalu sosok seperti apa yang bisa memberikan masukan soal pendekatan khusus Papua? Arman dengan tegas menyebut mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

“Yang tahu racikan resep pendekatan secara khusus di Papua itu hanyalah seorang Jenderal lapangan ahli strategi dan taktik seperti Pak @Nurmantyo_Gatot. Makanya rugi bagi Pak Presiden @jokowi memilih berseberangan ideologi dengan Pak Gatot dulu. Sekarang kerepotan sendiri kan beliau,” tulis @armangn8.

Sebelumnya, penulis liberal Denny Siregar dalam tulisannya juga menyebut Jenderal Gatot. Menurut Denny, Panglima TNI Jenderal Hadi Tjahjanto seharusnya belajar dari mantan Panglima TNI sebelumnya, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

“Pada masanya, Gatot menggerakkan operasi senyap yang membebaskan 1300 sandera di Tembagapura. Operasi ini berhasil dengan sukses dan membuat gerakan kelompok bersenjata di sana teredam. Pada saat itu, TNI terlihat sangat kompak dan kuat” tulis Denny.

Denny menilai, dipilihnya Gatot Nurmantyo waktu itu oleh Presiden Jokowi supaya TNI fokus mengawal pembangunan infrastruktur di Papua. Nah, ketika Panglima TNI dijabat oleh Hadi, ada kekosongan di sana, karena memang dia diminta Jokowi fokus mengawal maritim.

Komentar

Artikel Terkait