Ecosoc Institute: Setelah Soeharto, Hanya Rezim Jokowi yang Hilangkan Nyawa Demi Ekonomi Rente

itoday - Selain ucapan dan doa agar Menkopolhukam Wiranto cepat sembuh, di sosial media dipenuhi dengan ucapan duka cita atas meninggalnya korban kekerasan demonstrasi Akbar Alamsyah Rahmawan di RSPAD Gatot Subroto.

Bahkan, netizen menggaungkan hastag atau tagar #AkbarAlamsyahDukaDemokrasi. Hastag ini menjadi trending topic Twitter hari ini (11/10).

Akbar sempat koma 12 hari usai menjadi korban demo yang terjadi pada Rabu (25/9). Akbar dirawat di ruangan CICU nomor 108, lantai 2, Gedung Utama RSPAD. 

Sebelumnya, kepolisian menyebut Akbar mengalami luka berat akibat jatuh dari pagar saat berdemo. Namun, KontraS mendesak agar kasus ini diselidiki dengan tuntas terkait dugaan kekerasan dari pihak aparat.

Di akun resmi @KontraS, KontraS menyimpulkan bahwa Akbar diduga menjadi korban saat aparat secara brutal mengamankan aksi massa mahasiswa menolak sejumlah revisi Undang Undang.

“KontraS turut berduka sedalam-dalamnya atas gugurnya kawan muda, Akbar Alamsyah. Akbar turut menjadi korban saat aparat secara brutal mengamankan aksi beberapa pekan lalu,” tulis @KontraS.

Pertanyaan keras dilontarkan KontraS terkait meninggalnya Akbar. “Apakah ini yang disebut mengamankan tetapi justru menghilangkan nyawa seseorang? Selamat jalan, Akbar! Tak ada satupun pembenaran untuk kekerasan, dengan alasan apapun,” tulis @KontraS.

Institute Ecosoc Rights pun menyimpulkan bahwa, setelah rezim Soeharto, hanya rezim Joko Widodo yang hilangkan sekian banyak nyawa demi tegakkan “ekonomi rente”.

“Rest in Power Akbar Alamsyah. Setelah Soeharto, hanya rezim @jokowi yang hilangkan sekian banyak nyawa demi tegakkan ekonomi rente,” tulis akun @ecosocrights.

Politisi senior Hidayat Nur Wahid juga memberikan catatan. Menurut Hidayat Nur Wahid (HNW), meninggalnya Akbar menambah daftar pendemo yang tewas. Dan tragisnya, sampai saat ini tidak bisa terusut tuntas.

“Turut berduka cita atas wafatnya Akbar Alamsyah. InnaliLlahi. Semoga Allah terima sebagai syuhada. Ini menambah banyak pendemo yang tewas. Dan tragisnya sampai sekarang tak bisa terusut tuntas, agar penjahatnya dihukum seberat-beratnya. Teror apapun, di negeri hukum dan demokrasi, harusnya diakhiri,” tulis HNW di akun @hnurwahid.

Ironis, kakak kandung Akbar, Fitri Rahmi mengungkapkan, Akbar berstatus sebagai tersangka dugaan pengrusakan, penghasutan, dan provokasi. Menurut Fitri, dalam surat itu, Akbar ditetapkan sebagai tersangka oleh Polisi pada 26 September 2019.

Suasana pilu menyelimuti pemakaman Akbar Alamsyah (11/10). Ibunda Akbar, Rusminah histeris di atas pusaran anak kandungnya. Saat keluar dari kompleks makam, Rosminah berontak histeris sambil menyatakan anaknya meninggal karena disiksa. "Allahu Akbar anak saya digituin, disiksa," teriak Rusminah.

Komentar

Artikel Terkait