Pengurus LPNU: Menag Fachrul Razi Makin Bikin Gaduh dan Picu Kemarahan Umat Islam! Jokowi Sadar?

itoday - Statement Menag Fachrul Razi dinilai semakin membuat gaduh. Mulai dari pernyataan Fachrul yang menegaskan bukan Menag Islam, hingga terakhir, meminta khotib dan imam sholat memimpin doa menggunakan bahasa Indonesia.

Wakil Ketua Lembaga Perekonomian NU (LPNU), KH Umar Syadat Hasibuan turut menyoal pernyataan-pernyataan Menag Fachrul Razi. Secara khusus Umar menyinggung Presiden Joko Widodo terkait sikap Fachrul Razi.

“Pak @jokowi ini sadar gak sih kalau Menag pilihan dia ini makin lama makin bikin suasana gaduh dan menimbulkan kemarahan ummat Islam? Stetemen dia pertama jadi menteri saja bikin gaduh: saya bukan menteri agama Islam. Apa coba maksud dia bilang gini?,” tulis Umar di akun Twitter @GusUmarChelsea.

Mantan staf ahli Mendagri Gamawan Fauzi ini pun merinci pernyataan-pernyataan Fachrul yang dinilai membuat gaduh. Salah satunya terkait isu radikalisme yang cenderung menyudutkan umat Islam.

“Mungkin bukan hanya saya bahkan sudah banyak ummat Islam yang sudah mulai gerah dan mungkin marah dengan statemen Menag yang selalu menyudutkan Islam. Aneh memang demi isu radikalisme selalu Ummat Islam yang dipojokkan. Pak Menag situ agamanya apa sih?,” tanya @GusUmarChelsea.

@GusUmarChelsea menambahkan: “Jokowi beri jabatan Menag kod ex tentara dengan maksud menekan radikalisme. Koq seolah-olah Islam diidentikkan dengan kaum radikal? Apa radikalisme sudah parah banget di negara ini. Parahnya orang yang jadi Menag tentara yang sudah lama pensiun. Piye ini sob?”.

Umar Hasibuan kembali menyelipkan pernyataan viral aktivis NU “bisa kualat Jokowi gak kasih Menag bagi NU”, untuk menanggapi larangan Menag soal perempuan bercadar di kantor pemerintah.

“Orang bercadar dilarang ke kantor apa coba maksud Menag bilang gini? Memakai cadar bagi wanita  tak ada dilarang di UU nih Menag malah melarang. Makin ambyar nih Menag. Bisa kualat Jokowi gak kasih Menag bagi NU,” tegas @GusUmarChelsea.

Yang terbaru, Menag meminta setiap imam bisa memberikan khotbah dengan menyelipkan bahasa Indonesia di dalam doanya. Alasannya, tidak semua masyarakat atau jemaah paham dengan bahasa Arab.

“Makin aneh Bapak ini. Khutbah ya bahasa Indonesia kalau baca ayat Qur’an masak bahasa Indonesia?,” tulis @GusUmarChelsea.

Komentar

Artikel Terkait