Polri Bantah Mahfud dan Jokowi Soal Jaringan Bomber Polrestabes Medan, Sosiolog: Semrawut!

itoday - “Semrawut, dan simpang siur,” demikian komentar guru besar sosiologi Universitas Indonesia (UI) Tamrin Tomagola mengomentari perbedaan jumlah terduga pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan.

“Nah, gimana nih. Polri yang berada di bawah koordinasi Menko Polhukham membantah informasi Koordinatornya @mohmahfudmd. Semrawut, simpang-siur!,” tegas Tamrin di akun Twitter @tamrintomagola menanggapi tulisan bertajuk “Polri Membantah ada Seorang Pelaku Lain yang Kabur Seperti Disebutkan oleh Menkopolhukam Mahfud MD”.

Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, dalam konferensi pers di Mabes Polri, (13/11), mengungkapkan bahwa dugaan sementara pelaku melakukan aksi sendiri atau lone wolf, tanpa terlibat jaringan teroris manapun.

"Dugaan sementara pelaku melakukan aksi ini lone wolf. Sementara itu lone wolf melakukan suicide bomber (bom bunuh diri)," ungkap Dedi.

Sementara Presiden Joko Widodo, sebelumnya memerintahkan aparat untuk segera mengusut tuntas teror bom itu hingga mengadili jaringan pelaku bom bunuh diri. Hal itu disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Fadjroel Rahman di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta (13/11).

Fadjroel mengatakan Jokowi sudah memerintahkan langsung kepada Kapolri Jenderal Idham Azis, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, serta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, saat di Sentul.

"Beliau katakan, pelaku atau kelompoknya akan dikejar, ditangkap, dan diadili dengan sistem hukum yang berlaku," kata Fadjroel seperti dikutip cnnindonesia (13/11.

Sedangkan Mahfud MD sempat menyatakan ada satu pelaku berhasil kabur. “Yang satu bombernya lari dan masih pengejaran,” kata Mahfud di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (13/11).

Wasekjen MUI KH Tengku Zulkarnain berharap kepolisian dan Menkopolhukham mensinkronkan data pelaku bom, agar tidak simpang siur seperti kasus penusukan Menkopolhukham Wiranto belum lama ini.

“Bom Medan: Polisi:"Pelaku adalah lone wolf, serigala tunggal, mandiri, tidak punya jaringan ". Menko Polhukam: ”Buru jaringan teroris". Pelaku mandiri kok disuruh buru jaringannya? Coba sinkronkan antara Polisi dan Menko, biar tidak simpang siur lagi kayak penusukan Pak Menko yang lalu itu,” tulis Ustadz Tengku di akun @ustadtengkuzul.

Komentar

Artikel Terkait