Anies Diteriaki Presiden! Guntur Romli Tuding Reuni 212 untuk Serang Jokowi demi Anies di 2024

itoday - "Presiden! Presiden! Presiden!" teriakan itu membahana di lapangan Monumen Nasional (Monas) (02/12), saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan sambutan di hadapan jutaan massa Reuni 212.

"Yang sesungguhnya hebat di Indonesia ialah di sini ada persatuan. Ketika kesetaraan kesempatan ada. Ketika perlakuan yang sama ada pada setiap warga negara Indonesia. Maka di situ kita akan merasakan keadilan dan dengan begitu kita memiliki persatuan," tegas Anies di panggung utama Reuni 212.

Kehadiran Anies yang berbaju dinas serta sambutan yang luar biasa disoal aktivis liberal yang juga politisi PSI, Guntur Romli.

Guntur Romli menuding Anies memanfaatkan 212 untuk kepentingan politik pribadinya demi Pilpres 2024. 

“Ini @aniesbaswedan diteriakin 'presiden.. presiden' oleh peserta Reuni 212, persis yang saya bilang: Anies memanfaatkan 212 untuk kepentingan politik pribadinya demi 2024,” tulis Guntur di akun Twitter @GunRomli. @GunRomli menyertakan link tulisan bertajuk “Modus Politik Reuni 212 Dibongkar Guntur Romli: Tujuannya Serang Jokowi Supaya Anies Sukses di 2024”.

Senada dengan Guntur Romli, juru bicara PSI Dedek Prayudi mengomentari pidato Anies. Menurut Dedek pernyataan Anies di panggung Reuni 212 jauh api dari panggang.

“Jauh Api dari Panggang. Substansi kebijakan beliau bertentangan dengan apa yang diucapkan. Ketimpangan DKI meningkat, anggaran sekolah sekolah justru dipangkas demi efisiensi tapi anggaran balapan mobil formula tak tersentuh efisiensi,” tulis Dedek di akun @Uki23.

Secara khusus Aktivis 98 Nadine Olivia menentang netizen yang menyoal baju dinas yang dikenakan Anies di Reuni 212.

“Pak @aniesbaswedan diundang ke acara Reuni 212, beliau datang dengan menggunakan seragam kerjanya, menurut saya wajar, karena beliau diundang dalam kapasitas sebagai Gubernur DKI bukan pribadi, masa gitu aja kamu gak paham gog?” tulis Nadine di akun @NadineOliviea.

Penulis Helmi Felis menegaskan, Reuni 212 merupakan moment dan event paling besar dan luar biasa yang dicatat sejarah dunia.

“Tiada perkumpulan, persatuan, penyeruan, sedahsyat 212. Inilah moment, event paling besar dan luar biasa. Inilah sejarah yang tentunya akan tercatat dalam sejarah dunia, bukan hanya sejarah Indonesia.  Siapapun yang hadir, terlebih yang selalu menghadirinya pantas berbangga,” tegas Helmi di akun @helmifelis.

Komentar

Artikel Terkait