Pemesan Saracen Masih Gelap, Pengamat: Selama ini Yang Manfaatkan Buzzer itu Pendukung Ahok

itoday - Pihak kepolisian dinilai lamban mengungkap pihak-pihak di balik kiprah kelompok pembuat dan penyebar isu SARA di sosial media, Saracen. Kelambanan dan ketidakjelasan itu memunculkan berbagai macam spekulasi dan tudingan.

Pengamat politik Ahmad Baidhowi menyatakan, kelompok Saracen tidak mengenal ideologi. Kelompok ini hanya bermotif pedagang, yakni mendapatkan uang.

Menurut Baidhowi, karena ada kesan pihak kepolisian terkesan menutupi otak ataupun pemesan jasa Saracen, muncul dugaan di masyarakat bahwa pemesan Saracen adalah kelompok pro penguasa. 

"Grup Saracen ini pedagang, tidak mengenal ideologi. Karena ada kesan polisi menutupi pihak-pihak di belakang Saracen, maka dipersepsikan pemesannya dari pro penguasa,” kata Ahmad Baidhowi kepada intelijen (25/08). 

Selama ini, kata Baidhowi, akun-akun anonim pro penguasa di media sosial justru mencoba melakukan adu domba. "Jika diamati, akun anonim pro penguasa melakukan provokasi dan adu domba dengan mengklaim paling Pancasila dan cinta Kebhinnekaan," ungkap Baidhowi. 

Di sisi lain, Baidhowi menyesalkan adanya upaya untuk menggiring opini bahwa pemasan Saracen dari kalangan umat Islam. "Fadjroel (Fadjroel Rachman) loyalis Jokowi menuding 'umat' yang bermain. Kita amati saja, ada semacam penggiringan opini Saracen ini dibayar kelompok Islam," ungkap Baidhowi. 

Tak hanya itu, kata Baidhowi, secara khusus dikembangkan opini bahwa pemakai Saracen adalah “Alumni 212”, yang menggelar demonstrasi meminta agar Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipenjara dalam kasus penistaan agama.

"Selama ini yang memanfaatkan buzzer dengan bayaran itu dari kalangan pendukung Ahok. Umat Islam hanya sukarela saja dan tidak ada bayaran," pungkas Baidhowi. 

Sebelumnya, kepolisian, seperti disampaikan Kabag Mitra Divisi Humas Polri Kombes Awi Setiyono, masih belum bisa membeberkan pihak yang pernah menggunakan jasa Saracen. Hal itu lantaran polisi masih mengumpulkan barang bukti. Karena pengumpulan barang bukti ini tidak bisa hanya berasal dari pengakuan pelaku.

Komentar

Artikel Terkait

Jumat, , 22 September 2017 - 13:49 WIB

Djarot Tak Sekeren Ahok

Telah dilihat : 1315 kali

sahabat total episode 2

Telah dilihat : 1266 kali

sahabat total episode 1