Kejahatan Anak Makin Marak di Dunia Maya

itoday - Beberapa waktu lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengeluarkan peringatan tentang bahayanya memposting foto atau gambar anak di media sosial. Pola penculikan terhadap anak di bawah umur kini telah bergeser, salah satunya melalui jejaring sosial dengan memantau informasi yang dibagikan di linimasa.

Kecerobohan orang tua yang memaparkan soal lokasi, nama, umur, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan buah hatinya malah sasaran empuk para pelaku ekspolitasi, penculikan dan perdagangan anak.

Tidak hanya di Indonesia, kasus eksploitasi anak juga mendapat perhatian luas di seluruh dunia. Fokusnya sama; pola-pola ekspoitasi dengan menggunakan media sosial.

National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), badan amal untuk pencegahan kekejaman terhadap anak yang berasal dari Inggris secara tegas  mengeluarkan ancaman terhadap media sosial yang gagal melindungi anak-anak di platform mereka.

Organisasi tersebut mengatakan bahwa Facebook, Snapchat, dan Instagram digunakan oleh 70 persen lebih anak-anak di Inggris dan Wales selama 12 bulan sejak April 2017.

Mereka ingin agar pemerintah Inggris menunjuk regulator independen yang memiliki otoritas untuk menyelidiki dan mendenda jaringan sosial yang gagal dalam melindungi anak-anak.

“Teknologi telah berkembang sangat cepat sehingga pemerintah, legislatif, dan masyarakat gagal mengejarnya  sehingga jejaring sosial sering menjadi pintu gerbang pelecehan anak,” kata Des Mannion, kepala layanan di NSPCC Cymru.

“NSPCC percaya sisi lain yang berbahaya dari internet dan media sosial dan mengklaim sudah banyak makan korban.

“Situs-situs tersebut harus diminta untuk mengambil langkah proaktif sehingga (kejahatan terhadap anak) dapat dicegah sebelum membesar dan jejaring sosial harus dipaksa untuk mempublikasikan laporan tahunan yang transparan tentang skala penyalahgunaan pada platform mereka.

Pemerintah Inggris sendiri telah berjanji untuk memperkenalkan undang-undang untuk menjaga jaringan sosial agar selalu terawasi.

"Jejaring sosial harus diatur dengan benar demi anak-anak hari ini dan untuk generasi yang akan datang," Tambah Mannion.

Cara Facebook melawan Ekspolitasi
Kegelisahan masyarakat dunia terhadap kejahatan dan eksploitasi anak tampak didengar serius oleh Facebook, platform media sosial terbesar dunia yang juga menggawangi Instagram dan WhatsApp.

Beberapa minggu lalu, Instagram dengan bantuan teknologi AI memperkenalkan fitur pintar yang dapat mendeteksi tindakan perundungan atau bullying dan jika perlu menghapusnya. Fitur ini sangat membantu mengingat sebagian besar kasus bullying terjadi pada anak-anak.
Antigone Davis, Global Head of Safety Facebook dalam tulisannya beberapa waktu lalu membeebrakan langkah-langkah lebih detil tentang langkah-langkah Facebook untuk pencegahan exploitasi anak.

Ia mengatakan bahwa salah satu tanggung jawab terpenting Facebook adalah menjaga anak-anak tetap aman di Facebook.

“Kami tidak menoleransi perilaku atau konten apa pun yang mengeksploitasi anak di dunia online dan kami mengembangkan program keselamatan dan sumber daya edukasi dengan lebih dari 400 organisasi di seluruh dunia untuk membantu menjadikan internet tempat yang lebih aman untuk anak-anak,” Ujar Davis.

“Selama bertahun-tahun, pekerjaan kami telah mencakup penggunaan teknologi pencocokan foto untuk menghentikan orang agar tidak membagikan gambar eksploitasi anak yang diketahui, melaporkan pelanggaran kepada National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC), mengharuskan anak berusia minimal 13 tahun untuk dapat menggunakan layanan kami, dan membatasi orang yang dapat berinteraksi dengan remaja setelah mendaftar,” Lanjutnya.

Davis kemudian membagikan berbagai pencapaian Facebok dalam memerangi kejahatan pada anak yang sudah mereka usahakan selama setahun belakangan.

Selain mengembangkan teknologi pencocokan foto, Facebook juga menggunakan kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin untuk secara proaktif mendeteksi ketelanjangan anak dan konten eksploitasi anak yang tidak diketahui sebelumnya ketika diunggah.

Facebook menggunakan ini dan teknologi lainnya untuk mengidentifikasi konten dengan lebih cepat dan melaporkannya ke NCMEC, serta akun yang terlibat dalam potensi interaksi yang tidak sesuai dengan anak.

NCMEC (National Center for Missing and Exploited Children) merupakan badan perlindungan anak Amerika yang konsen terhadap isu-isu yang menyangkut kejahatan terhadap anak.
Upaya Facebook bersandar pada kecerdasan buatan untuk mencegah eksploitasi sejauh ini cukup bagus. Tak kurang, mereka sudah menghapus 8,7 juta konten di Facebook yang melanggar kebijakan ketelanjangan anak dan eksploitasi seksual anak, 99 persen di antaranya dihapus sebelum seseorang melaporkannya.

Selain itu, mereka \juga menghapus akun yang mempromosikan jenis konten terlarang di atas. Mereka mengkalim memiliki tim khusus dengan berbagai latar belakang seperti penegakan hukum, keselamatan online, analitik, dan investigasi forensik, yang meninjau konten dan melaporkan temuan kepada NCMEC.

Selanjutnya, NCMEC menyelidiki dan bekerja dengan badan penegakan hukum di seluruh dunia untuk membantu korban, sementara Facebook juga terus mengembangkan perangkat lunak yang dapat emndeteksi mengatasi kasus yang paling serius untuk dipiroritaskan terlebih dahulu.

Tak hanay dengan NCMEC, Facebook juga berkolaborasi dengan pakar keselamatan, NGO, dan perusahaan lainnya untuk menghentikan dan mencegah eksploitasi seksual anak di semua teknologi online. Misalnya, dengan Tech Coalition untuk memberantas eksploitasi anak di dunia online, Internet Watch Foundation, dan beberapa pemangku kepentingan WePROTECT Global Alliance untuk mengakhiri eksploitasi anak di dunia online.

Kabarnya Facebook tak lama lagi juga akan menggandeng Microsoft dan partner industri lainnya untuk mulai membuat alat untuk perusahaan yang lebih kecil guna mencegah orang dewasa mendekati anak-anak secara negatif di dunia maya.

Sumber foto: CIO East Africa

Komentar

Artikel Terkait