Samsung Galaxy Note9 vs Huawei Mate 20 Pro: Siapa Layak Jadi Raja?

Tahun lalu, persaingan 3 besar pada market share industri smartphone global terbilang seru, sebab setelah 8 tahun nyaman duduk di posisi kedua, Apple akhirnya harus tergeser oleh Huawei pada kuartal kedua. Pabrikan Tiongkok ini secara konsisten menunjukkan pertumbuhan jumlah pengapalan dari tahun sebelumnya (year-over-year shipment change) sebesar 32% pada kuartal kedua dan 40% pada kuartal ketiga (berdasarkan data IDC).

Sementara itu di posisi puncak, Samsung tidak sepenuhnya duduk nyaman, sebab prosentase market share pabrikan Korea ini ikut tergerus dengan selisih sebelumnya 12% pada kuartal pertama menjadi hanya 6% jika dibandingkan dengan Huawei.

Terlepas dari keseruan tersebut, tidak ada salahnya jika PULSA membenturkan dua produk unggulan dari kedua penghuni puncak pada persaingan di Industri smartphone ini, yakni Samsung Galaxy Note9 dan Huawei Mate 20 Pro. Artikel ini tentu saja tidak mengambarkan kualitas produk dari masing-masing vendor secara keseluruhan, namun produk flagship tentu layak jadi representasi yang ideal bukan?


Desain

Kedua vendor sepertinya sepakat bahwa kaca tangguh anti gores di kedua sisi (depan-belakang), merupakan pilihan material paling ideal untuk mempresentasikan sebuah produk premium kelas flagship. Sebab baik Note9 maupun Mate 20 Pro menggunakan material kaca pada kedua sisinya, dengan logam ringan sebagai bingkai disekelilingnya.

Secara fisik, Note9 lebih besar dibanding Mate 20, baik pada panjang, lebar, maupun ketebalannya. Sementara itu, Mate 20 Pro memiliki bentukan lebih membulat di ke-empat sudutnya.

Terkait kehadiran tombol fisik dan sejumlah lubang ataupun port di sekeliling frame, Mate 20 Pro tampak jauh lebih minimalis dibanding Note9 dengan hanya memiliki tombol power, pengatur volume, serta port USB Type-C. Sedangkan Note9, selain seperti yang dimiliki Mate 20 Pro, ponsel ini juga dibekali tombol khusus Bixby, slot penyimpanan S-Pen, port audio jack 3.5mm, dan sekat lobang loudspeaker.

Tampilan minimalis ini berhasil diaplikasikan pada desain Mate 20 Pro, salah satunya dengan cara menyembunyikan loudspeaker ke dalam port USB Type-C.

Perbedaan lain yang paling jelas untuk menunjukkan identitas keduanya ada di sisi belakang terutama pada area kamera utama. Pada Note9, tampak 2 lensa kamera utama, LED flash dan sensor detak jantung yang berbaris horizontal, ditambah sebuah pemindai sidik jari yang diletakkan di bawah barisan tersebut.

Lain halnya dengan Mate 20 Pro. Ponsel ini membawa 3 kamera utama yang disusun bersama sebuah dual tone flash dengan konfigurasi 2x2 yang membentuk bujur sangkar tepat di area tengah-atas pada back plate Mate 20 Pro. Dengan demikian keseimbangan pada desain Mate 20 Pro tetap terjaga.

Anda tidak akan melihat secara langsung kehadiran sensor pemindai sidik jari pada Mate 20 Pro, sebab Huawei mengaplikasikan teknologi In-Display Fingerprint Scanner yang canggih pada jagoannya satu ini.

Diantara sejumlah perbedaan, kedua ponsel punya satu kesamaan yakni sertifikasi anti air dan debu IP68 yang dimiliki keduanya.


Layar

Di sektor display, kedua ponsel mengadopsi panel layar AMOLED. Sehingga secara umum karakter tampilan warna keduanya pun tak jauh berbeda. Detail gambar tajam, warna pun terseparasi dengan lebih nyaman.

Kendati fisik Note9 secara signifikan lebih besar dibanding Mate 20 Pro, namun faktanya layar Note9 hanya sedikit lebih lebar dengan selisih 0.01 inci saja dibanding milik Mate 20 Pro. Hal ini karena keberhasilan Huawei untuk secara lebih maksimal memanfaatkan sisi depan Mate 20 Pro sebagai area layar.

Layar Mate 20 Pro menempati 87.9% sisi muka, sedang rasio layar milik Note9 hanya sekitar 83,4% dari bagian depannya.

Bukan hanya itu, Meski ukurannya sedikit lebih kecil, layar Mate 20 Pro justru memiliki resolusi lebih tinggi. Hal ini secara otomatis membuat tingkat kerapatan piksel pada layar Mate 20 Pro menjadi lebih padat (538ppi vs 516ppi).

OS dan UI

Merunut dari lini masa, Note9 sudah menggoda publik lebih lama dibanding Mate 20 Pro yang hadir 3 bulan setelahnya. Namun hal ini justru menguntungkan bagi Mate 20 Pro, sebab dengan demikian Huawei bisa membaca kekurangan rivalnya dan menyempurnakannya pada Mate 20 Pro.

Salah satunya dengan menyertakan Android versi terbaru Pie (9.0) langsung pada sistem Mate 20 Pro. Sementara pada Note9, meski kabarnya pengguna di beberapa region sudah mendapatkan update menuju Pie, namun selama masa pengujian, PULSA belum mendapatkan notifikasi update tersebut.

Kendati sama-sama menjalankan Android, namun masing-masing ponsel dibalut dengan tampilan antar muka (UI) khas kedua pabrikan. Note9 dengan Samsung Experience 9.5 sedang Mate 20 Pro dengan EMUI 9.0. Kabarnya, update Android Pie pada Note9 nantinya akan menyertakan UI anyar Samsung, One UI.

Keduanya menampilkan homescreen multi panel. Bedanya, pada Note9 terdapat AppDrawer yang menampung semua aplikasi yang ter-install pada ponsel ini, sehingga aplikasi yang tertampil pada panel homescreen hanya yang dianggap penting saja. Sedangkan interface Mate 20 Pro lebih simple dengan menampilkan semua aplikasi yang dimiliki, langsung pada homescreen.

Panel paling kiri didedikasikan untuk fitur khusus, Bixby Home pada Note9 dan Google Feed pada Mate 20 Pro. Fungsinya tak jauh berbeda, yakni menampilkan sejumlah informasi yang dianggap penting oleh pengguna. Informasi yang tertampil ini pada panel ini dipilihkan secara otomatis oleh sistem pintar yang dimiliki oleh masing-masing ponsel.

Fitur Unggulan

Sebagai produk unggulan kelas tertinggi bagi masing-masing pabrikan, baik Note9 maupun Mate 20 Pro tentu memiliki fitur khas.

Note9 misalnya. Ponsel ini membawa sejumlah fitur untuk melengkapi stylus khas Galaxy Note Series, S-Pen, yang dimilikinya. Pada S-Pen generasi terbaru ini, Samsung memanfaatkan teknologi Bluetooth Low-Energy (BLE) untuk melakukan sambungan jarak jauh dengan Note9. Dengan demikian pengguna bisa menggunakan S-Pen untuk mengontrol Note9 dari jarak jauh (hingga 10 meter).

Fungsi control yang bisa dimanfaatkan diantaranya, sebagai shutter jarak jauh untuk mengambil foto, remote untuk mem-pause video yang diputar pada YouTube, mengganti slide saat melakukan presentasi dan sebagainya.

Pengguna bahkan bisa melakukan pengaturan agar tombol pada S-Pen ini dapat digunakan sebagai shortcut untuk langsung membuka aplikasi tertentu. Secara default, dengan menahan tombol yang ada pada S-Pen, maka Note9 akan membuka fitur kamera.

Adapula Air Command, yang menambah fungsi S-Pen. Misalnya pengguna tinggal mengarahkan ujung S Pen pada tulisan berbahasa asing untuk menerjemahkannya dengan memilih Translate pada Air Command. Selain Translate, Air Command memberi sejumlah pilihan secara default, diantaranya Notes, Smart Select, Screen Write, dan Pen Up. Pengguna bahkan bisa menambahkan fitur atau shortcut aplikasi pada Air Command.

Mate 20 Pro tentu tak kalah menarik. Sebagai ponsel yang membawa Android Pie secara default, PULSA bisa merasakan sejumlah fitur yang menjadi ciri Android Pie terutama fitur-fitur yang menjadi bagian dari projek “Digital Wellbeing” yang dibuat Google. Projek ini sendiri merupakan bentuk tanggung jawab Google untuk menanggulangi masalah “kecanduan teknologi”.

Diantara fitur yang dimaksud adalah fitur App Dashboard akan menginformasikan pengguna, berapa kali ponsel dinyalakan (unlock), jumlah notifikasi yang masuk, hingga berapa waktu yang dihabiskan untuk setiap aplikasi. Pengguna bahkan dapat menentukan batas waktu penggunaan setiap aplikasi.

Selain App Dashboard, ada fitur Night Light  atau Wind Down Mode. Fitur satu ini akan mengurangi kebiasaan menggunakan ponsel di malam hari terutama menjelang tidur. Caranya, saat mendekati waktu istirahat malam, tampilan di layar ponsel akan kehilangan warna dan perlahan menjadi abu-abu.

Hal ini sebagai pengingat bagi pengguna bahwa sudah waktunya untuk tidur. Selain itu, tampilan hitam-putih relatif lebih aman bagi kesehatan mata di malam hari. Dan yang terpenting, tampilan seperti ini akan membuat aplikasi apapun yang sedang digunakan menjadi kehilangan daya tariknya yang secara perlahan mengundang kantuk.

Kedua fitur ini dibawa Mate 20 Pro melalui pengaturan Digital balance yang bisa diakses pada menu Settings> Digital Balance> Screen Time Management.


Hardware

Selain menggunakan versi OS terkini, kemunculan Mate 20 Pro yang lebih akhir jika dibandingkan Note9 membuatnya dibekali dengan rangkaian perangkat keras yang lebih mutakhir.

Mate 20 Pro sudah menggunakan chipset berteknologi fabrikasi 7 nanometer buatan HiSilicon (anak perusahaan Huawei), yakni Kirin 980. Sementara itu, Note9 yang beredar di Indonesia juga menggunakan pabrikannya sendiri, yaitu Exynos 9810. Hanya saja, chipset pada Note9 ini masih dibangun diatas fabrikasi 10nm.

Seperti diketahui, fabrikasi yang lebih kecil memungkinkan pabrikan semi conductor untuk dapat menyematkan lebih banyak transistor pada chip. Pada Kirin 980 kabarnya HiSilicon mampu menysusn sekitar 6,9 miliar transistor pada area yang hanya berukuran 1 cm persegi. Hal ini tentu berkontribusi besar pada peningkatan performa yang signifikan.

Teknologi 7nm sendiri diklaim mampu memberikan kinerja 15%-20% lebih cepat dan penghematan daya hingga 40% lebih baik dibanding chipset yang menggunakan fabrikasi 10nm.

Inovasi lain yang dihadirkan Kirin 980 adalah pembagian 8 core pada CPU ke dalam 3 cluster untuk kebutuhan kinerja dan efisiensi daya yang berbeda. Cluster pertama terdiri dari 2 core berbasis 2.6GHz yang akan mengerjakan berbagai pemprosesan yang membutuhkan kinerja yang spontan dan intensif. Kemudian di cluster kedua ada 2 core dengan kecepatan sedikit lebih rendah yaitu 1.92GHz yang akan menangani pemprosesan yang membutuhkan kinerja berkelanjutan namun lebih hemat energi. Dan yang terakhir ada 4 core sisanya yang memiliki kecepatan 1.8GHz pada masing-masing core. Cluster ini mengurusi pemprosesan yang ringan atau aktifitas aplikasi-aplikasi yang berjalan di background, dengan efesiensi daya yang sangat tinggi.

Di lain pihak, 8 core yang dimiliki Exynos 9810 dibagi atas 2 cluster, 4 core kecepatan tinggi (2.7GHz) dan 4 core untuk efisiensi daya dengan kecepatan lebih rendah (1.8GHz).

Secara umum sejatinya kedua ponsel memberikan performa yang sangat memuaskan layaknya yang diharapkan dari sebuah ponsel di kelas flagship.


Kamera Foto

Sebuah ponsel bertitel flagship sudah selayaknya tampil maksimal di segala sektor. Apalagi di fitur utama, salah satunya kamera. Dan kedua ponsel ini tentu saja membawa spesifikasi dan fitur mumpuni di sektor ini.

Note9 dibekali kamera utama ganda dengan konfigurasi 12 MP (wide angle, super speed dual pixel, dual aperture (f/1.5-f/2.4) + 12MP (Telephoto, F/2.4). Sementara di sisi depan, Note9 membawa kamera 8MP dengan bukaan F/1.7.

Mate 20 Pro di sisi lain, membawa 3 kamera utama sekaligus dengan spesifikasi 40 MP (f/1.8, wide angle) + 20 MP (f/2.2, ultrawide) + 8 MP (f/2.4, telephoto) ditambah dengan kamera tunggal di sisi depan dengan spesifikasi 24 MP (f/2.0, wide).

Dari spesifikasi ini, Mate 20 Pro tampak memberikan lebih banyak opsi untuk disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Dilihat dari besaran resolusinya, Mate 20 Pro jelas lebih superior. Demikian pula jika dilihat dari ukuran sensor kamera utamanya (1/2.55 inci berbanding 1/1.7 inci), Mate 20 Pro punya sensor yang lebih massif, sehingga memungkinkannya menampung lebih banyak informasi cahaya yang menghasilkan foto dengan detail lebih baik.

Sementara jika ingin menangkap area pandang yang lebih luas pengguna cukup melakukan zoom out ke ukuran 0.6X yang secara otomatis membuat kamera utama berpindah menggunakan lensa ultra-wide berukuran 20MP yang dimiliki.

Ingn menangkap objek yang agak jauh tanpa harus melangkah mendekatinya, Mate 20 Pro juga relatif superior sebab lensa telephotonya memiliki kapabilitas optical zoom hingga 5X, sedang lensa telephoto Note9 hanya sebatas 2X. Kendati demikian jika digabungkan dengan kemampuan digital zoom, kedua ponsel mampu melakukan pembesaran hingga 10X.

Kamera Video

Meski “menang banyak” di sektor fotografi, namun Mate 20 Pro tampak mendapat kekalahan dari Note9 di sektor videografi. Setidaknya hal itu yang bisa dilihat dari variasi resolusi video yang ditawarkan. Meski sama-sama mampu merekam video Ultra HD atau 4K, namun Note9 sanggup merekam dengan kecepatan lebih tinggi yakni 60 frame per detik.

Selain itu, Note9 juga menyediakan pilihan resolusi QHD atau 2K yang tidak dimiliki oleh Mate 20 Pro. Meski begitu, ketika melakukan pengaturan resolusi video, pengguna akan mengetahui lewat keterangan yang diberikan oleh sistem, bahwa pada resolusi UHD  (baik 60 fps maupun 30 fps), QHD dan FHD (60fps), fitur Tracking Auto Focus dan effect tidak dapat difungsikan. Sementara fitur stabilization tidak berfungsi hanya pada resolusi FHD (60fps).

Yang paling menarik pada sektor perekam video dan dipunyai oleh keduanya adalah kemampuan untuk merekam video super slow motion dengan kecepatan hingga 960 fps. Hal ini berarti kedua ponsel mampu memperlambat gerakan objek yang ada di video hingga 30 kali lebih lambat. Keduanya merekam mode super slow motion pada resolusi maksimal HD (720p).

Sumber: tabloidpulsa.co.id

Komentar

Artikel Terkait

Selasa, , 21 Mei 2019 - 16:12 WIB

Kabar Baik! AS Beri Ampun untuk Huawei