Huawei P30 Pro: Ubah Konsep Kamera, Bawa Lensa Prisma dan Sensor Lebih Peka Cahaya

Melanjutkan misi seri P Huawei sebelumnya, P30 Pro hadir dengan tetap mempertahankan superioritas pada kamera, serta desain ala flagship yang tetap mempesona. Setelah diperkenalkan secara resmi melalui sebuah acara yang berlangsung di Paris Perancis 26 Maret lalu, Huawei P30 Pro akan dijual resmi dengan membuka pre-order tanggal 12 April mendatang di Tanah air.

Tak perlu lama, kami mendapatkan kesempatan menjajal satu varian yang bakal dirilis di Indonesia. Yakni Huawei P30 Pro dengan konfigurasi Internal 256 GB dan RAM 8 GB. Memiliki warna back cover “siang” yang merupakan perpaduan biru muda, biru tua dan putih, dipercaya akan menemani satu pilihan warna lain yakni Aurora (warna “malam”). Sementara, untuk yang Amber Sunrise (warna pagi), kami belum mendapat kepastian apakah juga akan dirilis di Indonesia.

Tanpa banyak berbasa-basi, silakan cek review berikut.

Tampil Elegan dan Cenderung Licin

Membawa bentangan layar 6,47 inci, Anda mungkin berpikir bahwa produk ini akan terasa besar di genggaman. Tapi nyatanya itu salah. Karena rasio 19.5:9, maka seluruh bagian permukaan ponsel adalah layar. Kecuali bagian kamera di bentukan tetesan embun di bagian atas. Alhasil ponsel ini terasa layaknya ponsel biasa. 

Satu hal yang mungkin akan dikeluhkan pengguna baru Huawei adalah jarak menuju ujung atas layar agak jauh dan sulit dijangkau dalam penggunaan satu jari. Ini adalah masalah umum perangkat Android dengan layar penuh. Beruntung ada one hand mode di EMUI yang akan mengurangi masalah ini. Atau Anda bisa gunakan dua tangan agar bisa lebih nyaman.

Karena bagaimanapun, backcover ponsel ini terasa sedikit licin. Memegangnya dengan dua tangan akan terasa lebih aman. Atau gunakan casing tambahan yang tidak mengurangi pesona warna gradasinya.

Dengan menggunakan layar penuh dan meminimalisir desain poni dew drop, beberapa fitur sengaja diletakkan di balik layar. Teknologinya ada, dan bisa bekerja, kenpa tidak? Teknologi itu antara lain, sensor sidik jari. Diletakkan di balik layar di sepertiga bagian bawah. Teknologi ini sudah diimplementasikan di Huawei Mate 20 Pro.

Dengan pengalaman di Mate 20 Pro, maka kami telah memastikan bahwa kinerja sensor sidik jari di P30 Pro lebih baik beberapa persen ketimbang di Mate 20 Pro.

Berikutnya adalah speaker earpiece. Beberapa produk menyematkannya di bagian atas lensa kamera. Namun di P30 Pro, earpiece dihilangkan. Membenamkan speaker di bawah layar, suara akan dirambatkan melalui layar. Huawei menyebutnya sebagai Huawei Acoustic Display Technology.

Performanya oke. Suara tidak terdengar terlalu keras, sehingga pembicaraan akan tetap menjadi privasi Anda, dan lawan bicara.

Layar OLED dan EMUI Kekinian

Beralih lebih fokus ke bagian display. Ponsel ini membawa layar jenis OLED dengan resolusi 1080 x 2340 pixel. Lebih kecil dari Mate 20 Pro, namun memungkinkan dua teknologi under display Huawei berjalan dengan baik. 

Meski tercatat menggunakan resolusi yang lebih kecil, fitur-fitur OLED yang dibawa Mate 20 Pro kembali hadir di ponsel ini. Sebut saja teknologi HDR10 untuk menonton konten dengan lebih baik dan teknologi warna yang sudah menggunakan DCI-P3. Memungkinkan lebih banyak variasi warna yang dikenali oleh mata penggunanya.

Soal kemampuan OLED lain, yang mungkin Anda sudah ketahui sebelumnya, semisal tingkat hitam yang tinggi serta efektivitas penggunaan daya yang lebih oke, tentu berlaku juga pada layar P30 Pro ini. 

Jenis layar seperti ini juga memungkinkan Huawei P30 Pro menghilangkan bezel di sisi kanan dan kiri, meski layar tidak dibuat sampai meluber ke bagian tepi alias ala-ala layar edge di produk pesaing. Pada awal-awal penggunaan, layar bagian tepi ini terasa mudah mengidentifikasi sentuhan yang tidak disengaja. Semisal saat memegangnya dengan satu tangan. Tapi seiring berjalannya waktu pemakaian, kita akan tahu titik aman, nan optimal untuk mengurangi masalah ini.

EMUI 9.1 berbasis Android 9 (Android Pie) yang digunakan juga sudah menyediakan opsi untuk mengurangi salah identifikasi sentuhan, melalui pilihan Mistouch prevention. Ditambah sejumlah pilihan one hand mode, akan meningkatkan kenyamanan saat menggunakan ponsel ini.

Menggunakan sistem navigasi apapun, apakah itu menggunakan Navigation Dock, Three key maupun Gestures, menjelajahi fitur dan aplikasi di ponsel ini relatif nyaman. Meskipun bagi sebagian orang tampilan EMUI dianggap sedikit kaku.

Chipset 7nm 

Saat Mate 20 Pro diperkenalkan, Kirin 980 merupakan pemain solo di kategori chipset 7nm. Sekarang pesaingnya sudah cukup banyak. Tapi kehadirannya yang lebih awal menjadi handicap Hi-Silicon untuk memperbaiki kinerjanya di produk terbaru.

Hal yang paling dirasa adalah berkurangnya suhu pada saat ponsel bekerja keras. Semisal bermain PUBG atau game-game lain dengan grafis yang demanding. Bagian back cover tidak terasa hangat, hanya sedikit peningkatan suhu yang normal, tapi masih di bawah suhu yang dilepas oleh Mate 20 Pro. Teknologi pembuangan panas yang lebih apik ini disebut sebagai Huawei SuperCool. 

Namun ketika diukur melalui aplikasi-aplikasi benchmarking seperti biasa, angkanya masih sedikit di bawah Huawei Mate 20 Pro.

Tapi jangan khawatir. Aman rasanya apabila PULSA menyebut bahwa kinerja P30 Pro dengan Mate 20 Pro mirip antara satu dengan yang lain. Nah soal mengapanya, apakah karena penggunaan peredam panas yang lebih baik di P30 Pro, atau memang konsentrasi Huawei yang lebih condong ke sisi imaging (kamera dan display) di P30 Pro? Kami hanya bisa menebak saja.

Intinya, kinerja chipset P30 Pro merupakan standar kelas flagship. Ia memiliki efisiensi untuk penggunaan daya yang lebih hemat secara signifikan, kinerja yang mumpuni, kemampuan AI yang lebih baik dengan dual NPU nya dan dukungan terhadap kecepatan koneksi yang lebih up to date. Perlu diingat bahwa di produk P30 Pro ini juga telah membawa sistem kamera yang baru. Hal ini tentu membutuhkan penyesuaian di sisi prosesing dan efisiensi.

Menariknya, produk P30 Pro yang kami review, juga merupakan produk yang bakal diluncurkan secara resmi di Indonesia, telah diperkuat oleh RAM 8 GB dan penyimpanan internal 256 GB. Sebuah angka yang menjanjikan. Karena di atas kertas, kombinasi chipset dengan dukungan memori seperti ini akan memudahkan kehidupan berponsel kita.

Itu pun belum kita masukkan update software GPU Turbo yang secara pre-install sudah hadir untuk meningkatkan pengalaman pengguna dalam bermain game.

Perubahan-Perubahan di Sisi Kamera

Nah bagian kamera ini yang paling seru untuk dikupas. Seperti yang telah kita ketahui, sejak P9, Huawei bekerja sama dengan pabrikan kamera Leica dalam mengembangkan sensor dan algoritma pengambilan gambarnya. Dan setiap produk baru pasti membawa peningkatan fitur, tak terkecuali di Huawei P30 Pro ini.

Perubahan pertama, yang terlihat adalah hadirnya 4 kamera di bagian belakang, 3 tersusun memanjang dari atas ke bawah, dan satu lagi diletakkan di bawah flash. Satu kamera yang menempati titik paling atas merupakan kamera 20MP ultrawide angle (16 mm) f2.2. Sementara di bawahnya ada 40MP wideangle lens (27mm) f1.6.

Sedangkan dua kamera lain, yakni yang paling bawah di kelompok yang tersusun memanjang ini, adalah kamera baru yang menggunakan teknologi periskop. Desain seperti ini sudah diperkenalkan pertama kali sejak MWC 2017 lalu oleh vendor pesaing. Sebagai solusi untuk mendapatkan gambar yang solid menggunakan beberapa tumpuk lensa yang tersusun menyamping, sehingga tidak membuat ponsel jadi terlihat gendut. Lalu untuk menangkap gambar hingga sampai ke sensor melalui tumpukan lensa tersebut, maka mereka menggunakan kaca prisma yang akan membelokkan cahaya ke arah samping, dimana tumpukan lensa dan sensor berada.

Dengan semakin banyak lensa yang terlibat dalam pengambilan gambar melalui kamera ini, maka kita dapat melakukan perbesaran gambar yang setara dengan perbesaran optical. Dimana kualitas foto dapat dipertahankan meski mengalami perbesaran. Dalam hal ini Huawei P30 Pro mampu menangkap gambar dengan perbesaran 5X secara optical, 10X hybrid dan hingga 50 X secara digital.

Lalu yang terakhir ada kamera ToF Depth sensing, singkatan dari Time of Flight. Merupakan sensor kamera untuk membedakan jarak antara obyek utama dengan latar belakang. Secara teori, foto portrait yang bisa dihasilkan oleh ponsel ini akan memperlihatkan gambar bokeh yang lebih halus tanpa terlihat artifisial.

Percobaan yang kami lakukan cukup untuk menjelaskan arti penting hadirnya kamera ini dalam meningkatkan kualiatas foto portrait di Huawei seri P. 

Lalu masih di urusan pengambilan gambar, secara spesifikasi kamera P30 Pro sudah bisa banyak bicara soal kemampuannya menangkap cahaya. Bukaan kamera utamanya adalah f/1.6. Tapi itu saja belum cukup, Huawei P30 Pro juga merupakan produk pertama Huawei yang menggunakan sensor RYYB (red yellow yellow blue) menggantikan sensor RGGB (red green green blue). 

Mengganti filter berwarna hijau dengan kuning, akan meningkatkan kemampuan sensor dalam menangkap lebih banyak warna hijau dan merah ke dalam spektrum warna yang terlihat. Ini akan meningkatkan kapasitas cahya yang masuk, hingga 40 % lebih banyak.

Kamera Huawei P30 Pro kini memiliki ISO yang besar, yakni 409.600 (empat ratus sembilan ribu enam ratus).

Di sisi perekam video, ponsel ini sudah mampu merekam video dalam resolusi 4K UHD, FHD+ (19.5:9), FHD 60 fps (16:9), FHD, FHD+ (21:9 cinematic), HD+ (21:9 cinematic) dan HD 720p (16:9). Lengkap! Anda tak perlu khawatir ketika menggunakannya sbeagai alat untuk melakukan VLOG-ing.

Baterai

Demi menjaga kinerjanya sepanjang hari, P30 Pro telah dilengkapi baterai berkapasitas tinggi, 4200 mAh yang mendukung Huawei Super Charging, sehingga mengisinya kembali penuh bukan lagi jadi masalah. Perlu dicatat bahwa teknologi Super charge ini berbeda dengan teknologi pengisian cepat ponsel lain, sehingga adapternya pun harus disesuaikan. Alias harus menggunakan adapter bawaan yang kompatibel.

Ponsel ini juga mendukung pengisian daya secara nirkabel, alias wireless. Tapi kita harus membeli charger wirelessnya secara terpisah untuk merasakan kemampuan ini. Nah, yang menarik, kemampuan wireless charging ini bersifat reverse atau terbalik. 

Artinya, P30 Pro juga bisa digunakan untuk mengisi daya perangkat lain yang mendukung proses pengisian daya tanpa kabel seperti ini (Qi).

Kesimpulan

Pengguna Huawei seri P lawas yang ingin mengupdate perangkatnya mungkin akan sangat galau melihat teknologi-teknologi yang dibawa oleh P30 Pro. Tidak hanya menyediakan satu anak tangga, produk ini juga membawa sejumlah perbaikan yang cukup signifikan di kelas flagship.

art dengan membawa teknologi periskop menjadi poin penting yang membuat kami kepingin cepat-cepat mereview. Hasilnya tidak mengecewakan, terutama di perbesaran secara optik.

Sumber: tabloidpulsa.co.id

Komentar

Artikel Terkait